Jumat, 10 Juni 2011

Cara Berdiskusi Agama Yang Sebaik-baiknya.

>>> Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu), dan mohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan hal-hal keduniaan) itu. kemudian apabila engkau telah berazam (sesudah bermusyawarah, untuk membuat sesuatu) maka bertawakalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakal kepadaNya. [‘Ali Imran 159].
‎> [Poin 1]

Hendaklah kita bersikap lemah lembut apabila berdakwah. Jika kita bersikap keras dan kasar, mereka akan lari dari kita. Berdakwah ada dua jenis, berdakwah kepada orang bukan Islam kepada Islam dan berdakwah orang Islam kepada Islam yang lebih sempurna.

Jika kita berdakwah kepada orang ramai dengan kata-kata yang kasar tentang sesetengah amalan mereka, maka mereka akan meninggalkan kita, meskipun dakwah kita disertai hujah al-Quran dan Sunnah yang sahih atau tidak. meskipun berbicara yang betul atau salah.

Perhatikan manhaj dakwah yang diajar oleh Allah kepada Nabi Musa dan Harun:

"Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas dalam kekufurannya. "Kemudian hendaklah kamu berkata kepadanya, dengan kata-kata yang lemah-lembut, semoga ia beringat atau takut". [Taha 20: 43-44]

Di atas adalah manhaj dakwah kepada Firaun. Bagaimana pula manhaj dakwah sesama umat Islam ? Tentu lemah lembutnya adalah berkali ganda. ....


> [Poin 2]

Hendaklah kita memaafkan. Dengan sikap ini di dalam hati nurani kita, kita akan dapat berbicara dengan sesama umat dengan baik lagi penuh hikmah. Ingat, walaupun kita sesama umat adakalanya berbeza pendapat, kita tetap adalah umat Islam yang dimaksudkan oleh firman Allah:

Nabi Muhammad (s.a.w) ialah Rasul Allah; dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir yang (memusuhi Islam), dan sebaliknya bersikap kasih sayang serta belas kasihan sesama sendiri (umat islam). [Fath 48:29]

Sifat memaafkan adalah antara sunnah Rasulullah ketika berdakwah. Dalam sirah baginda, terdapat banyak contoh pemaafan yang diberikan oleh Rasulullah kepada orang yang menentangnya. Sehingga sifat maaf yang darinya lahir kelemah-lembutan dapat menarik orang yang pada awalnya menentang kembali mendekati baginda. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah dengan firmanNya:

Dan tidaklah sama (kesannya dan hukumnya) perbuatan yang baik dan perbuatan yang jahat. Tolaklah (kejahatan yang ditujukan kepadamu) dengan cara yang lebih baik; apabila engkau berlaku demikian maka orang yang menaruh rasa permusuhan terhadapmu, dengan serta merta akan menjadi seolah-olah seorang sahabat karib. [Fussilat 41:34]

Sekalipun terhadap orang-orang bukan Islam, sikap kita yang pertama ialah berlemah lembut kepada mereka. Perhatikan firman Allah:

Dan janganlah kamu berbahas dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali orang-orang yang berlaku zalim di antara mereka; dan katakanlah (kepada mereka): "Kami beriman kepada (Al-Quran) yang diturunkan kepada kami dan kepada (Taurat dan Injil) yang diturunkan kepada kamu; dan Tuhan kami, juga Tuhan kamu, adalah Satu; dan kepadaNyalah, kami patuh dengan berserah diri." [al-Ankabut 29: 46].


> [Poin 3]

Bermusyawarahlah, yakni kita berdiskusi. Kita sama-sama tahu bahwa banyak orang menolak sesuatu bukan karena salah tetapi karena mereka tidak tahu. Dan banyak orang mengamalkan sesuatu bukan karena betul tetapi karena sejak kecil telah diajar demikian. Kita juga tahu bahwa banyak orang enggan menerima sesuatu bukan karena buta atau pekak tetapi karena berat di hati untuk mengaku bahwa apa yang dilakukan selama ini adalah kurang tepat.

Maka bagi menangani masalah di atas memerlukan banyak sabar, ilmu, dan al-Hikmah. Dan ketiga-tiga ini perlu kita terapkan secara berdiskusi. Yang utama ialah kita cuba rebut peluang untuk mendengarkan kepada mereka ayat-ayat Allah dan hadis-hadis Rasulullah....!

Kita sama-sama tahu, banyak orang yang tidak kenal al-Qur’an kecuali sekadar hiasan dinding, hantaran kawin, amalan malam Jumaat dan nasihat serta peringatan kepada mayat. Hadis Nabi jauh lagi.

Maka di sini menjadi kewajipan kita untuk berdiskusi, menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah, agar mereka faham apakah yang sepatutnya menjadi dasar dalam beragama.

Perhatikan firman Allah kepada orang-orang Islam yang ketika itu diberi izin untuk sedia menyerang Kota Mekah kerana mereka mencabuli perjanjian Hudaibiyah:

Kemudian apabila habislah (masa) bulan-bulan yang dihormati itu maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu menemuinya, dan tawanlah mereka, dan juga keponglah mereka, serta tunggulah mereka di tiap-tiap tempat mengintipnya. Kemudian jika mereka bertaubat (dari kekufurannya) dan mendirikan sembahyang serta memberi zakat, maka biarkanlah mereka (jangan diganggu). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani...

Dan jika seseorang dari kaum musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka berilah perlindungan kepadanya sehingga ia sempat mendengar keterangan-keterangan (ayat-ayat) Allah (tentang hakikat Islam itu), kemudian hantarlah dia ke mana-mana tempat yang ia beroleh aman. Perintah yang tersebut ialah kerana mereka itu kaum yang tidak mengetahui (hakikat Islam). [at-Taubah 9:5-6]

Jika dalam suasana menghadapi perang kita disuruh merebut kesempatan untuk menerangkan ayat-ayat Allah, maka bagaimana pula dalam ketenteraman sesama umat Islam?

Jika kita menghadapi perbezaan pendapat dengan menghukum: itu bid’ah, itu salah, itu haram, maka ini bukan namanya berdiskusi. Berdiskusi ialah kita mendengar pendapat mereka, menyampaikan pendapat kita dan bersama-sama mencari kebenaran antaranya. Adakalanya mereka salah dan adakalanya kita salah.


> [Poin 4]

Bertawakal kepada Allah. Perkara penting yang perlu kita ingat, berdakwah ialah menyampaikan, bukan memaksa orang menerima apa yang didakwahkan atau menghukum jika mereka tidak mau menerimanya. Jika kita memilih dua yang terakhir di atas, dakwah kita yang asalnya adalah satu kebajikan akhirnya akan bertukar menjadi dosa ke atas diri kita sendiri.

Jika kita telah menyampaikan tetapi mereka tidak mau menerima, maka tugas kita selain bertawakal ialah berfikir, apakah silap dan kekurangan kita sehingga kita gagal ? Apakah yang boleh kita lakukan untuk beroleh kejayaan ? Kenapakah orang masih menjauhkan diri dari sunnah Rasulullah ? Adakah yang menjadi faktor penggagal itu sunnah Rasulullah atau sunnah kita sendiri dalam cuba menegakkan sunnah Rasulullah ? Adakah kita benar-benar mengamalkan sunnah Rasulullah secara keseluruhannya ? Adakah kita hanya mengamalkan sunnah dalam beribadah tetapi tidak dalam berdakwah ?

Jika poin-poin di atas selalu kita praktikkan dengan baik, pasti rakan diskusi kita akan menerima apa yang kita sampaikan dengan baik, tanpa mengira sama ada dia adalah orang bukan Islam atau orang Islam sendiri. ..

insya Alloh ....semoga bermanfaat ....amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar