Tampilkan postingan dengan label pencerahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pencerahan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juli 2012

Untukmu Para Remaja .....

Tulisan ini dihadiahkan untuk saudara kami para remaja muslim. Semoga Allah berkenan membuka pintu kebaikan lewat kelembutan mata hati teman- teman remaja semua, untuk mengetahui lebih jauh tentang siapa dan bagaimanakah diri kita sebenarnya.
Tulisan ini adalah agar kita sama- sama tidak terlalaikan atas kewajiban sebagai seorang muslim, dan supaya hati kita tidak tertutup dan lalai dengan keindahan kehidupan dari mengingat Allah subhanahu wata’ala. Dengan tulisan ini, kita mohonkan kepada Allah agar membebaskan kita dari berbagai dosa yang tiada henti kita lakukan di dunia ini.
Wahai saudaraku para remaja, ketika hidup ini memiliki tujuan, maka kita tidak akan terombang- ambing tanpa arah dan tujuan. Maka berhentilah berkata bahwa kita masih terlalu muda untuk berpikir serius tentang hidup. Bukankah sesuatu yang besar yang kita harapkan datang di masa depan kelak, dan menyenangkan kita, justru akan bermula dari perbuatan kecil yang kita lakukan sekarang?
Saudaraku, para remaja muslim, maka kenalilah tujuan mengapa kita harus dihidupkan Allah di dunia ini. Sungguh Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia- sia.Begitu pula dengan keberadaan diri kita. Hidup bukanlah tentang bersenang-senang saja, tetapi sejatinya untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya) :
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)
Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, itulah sebenarnya tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Wahai saudaraku remaja muslim, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, hidup kita kini sedang menuju sebuah garis akhir yaitu kematian. Dan bahkan peramal sehebat apapun tak akan bisa menebak, kapan langkah kaki kita akan terhenti dan kita akhirnya mati. Dengarlah Firman Allah berikut ini,
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dibumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Maka suka atau tidak suka, mau atau tidak mau sebenarnya hidup itu bukan pilihan. Ya, hidup bukan sama sekali tentang pilihan. Allah memberikan kebaikan supaya engkau baik, dan Allah memberikan pelajaran tentang kejelekan adalah supaya kau juga belajar tentang kebaikan. Jadi kebaikan adalah satu- satunya hal yang harus dipilih. Dan kebaikan itu hanya terkandung dalam islam, yang sekali lagi satu satunya hal yang harus kita pilih. Di dalam islam kita akan justru menemukan banyak pilihan tentang hal- hal yang membahagiakan. Tapi ingatlah, betapapun besarnya kebahagiaan dan kesenangan di dunia, semua pasti akan ada akhirnya. Dan kesenangan abadi seorang muslim adalah ketika nanti kits berada di surganya Allah.
Maka wahai para sahabat muda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sepenuh hati sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti pada harikiamat, sebagaimana sabdanya:
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)
Bisakah kau bayangkan betapa ruginya kita, apabila kita sampai di usia remaja ini, belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Saudaraku, sudah siapkah kita dengan timbangan amal yang pasti, sekali lagi, pasti kita akan menjumpainya nanti. Sudahkah kita menghisab amal perbuatan kita sendiri terlebih dahulu, sebelum Allah nanti menghisap kita dan memperlihatkan timbangan amal kita. Bisakah kau bayangkan, betapa sengsaranya kita, ketika ternyata timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan?. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala :
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)
Selain itu,bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, sudahkah kita gunakan kesempatan di masa muda kita ini untuk kebaikan?
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara:
Umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi)
Wahai sahabat remaja, iblis, setan, dan bala tentaranya akan selalu setia dalam berupaya mengajak manusia agar selalu bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala. Tidak lain adalah karena mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka.
Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Wahai sahabat remaja, setiap amalan kejelekan dan maksiat yang kita lakukan, pasti akan dicatat di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti kita juga akan melihat akibat buruk dari semua itu, jika hal itu adalah kejahatan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)
Setan juga ingin umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama segerombolan orang yang kau anggap teman-teman itu, dan melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, maka hal tersebut merupakan wujud solidaritas dan kekompakan. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang mungkin kita cintai akan menjadi musuh yang paling kita benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya) :
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)
Maka dari itu, sudah selayaknya kita mengadakan koreksi mendalam tentang diri kita sendiri sekarang. Dan perbaikan diri tentu saja bisa kita lakukan jika kita memiliki ilmu. Saudaraku, jangan gadaikan keharusanmu mengetahui ilmu tentang islam dengan hanya mengunggulkan ilmu tentang duniawi semata. Karena, menuntut ilmu tentang agama kita ini, merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.
“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

~~~~~» Ujian Hidup «~~~~~

Pasti Allah menguji orang yang beriman kepada-Nya

Ujian dirancang bukan untuk menghancurkan
Bahkan sebaliknya untuk membersihkan dan menguatkan

Karena tak ada kebahagiaan, kecuali hati yang bersih dari kemusyrikan , kemunafikan, serta kokoh keyakinan kepada-Nya plus istiqamah patuh pada Nya

Akan terasa pahit
Bila berburuk sangka pada-Nya
Tak ridha dengan ketentuan-Nya
Bagai menggenggam erat kawat berduri yang tak mau melepaskannya

Berbaik sangka lah
Jalani ujian demi ujian tanpa keluh kesah.
Karena semua ini sudah dirancang amat sempurna, sangat baik dan amat manfaat bagi dunia akhirat kita.

Oleh Dia Yang Amat Menyayangi kita dan amat menginginkan kita menjadi ahli surga-Nya.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan" (QS Al-Anbiyaa' : 35)

Sabtu, 25 Juni 2011

Tasauf: Antara syariat, hakikat dan tarekat

Syari`at, Tarekat dan Hakikat

 Syariat berasal dari Bahasa Arab, menurut Kamus Al-Munawir ialah jalan yang lurus (at-tariqat al-mustaqimat), yakni jalan yang dengan mudah da­pat mengantarkan seseorang ke tempat yang ia tuju.[1]
Dalam perkembangan selanjutnya, isti­lah Syariat oleh para ulama dipergunakan untuk pengertian “segala aturan” yang di­tentukan A11ah untuk para hamba-Nya. baik yang berkenaan dengan soal-soal akidah maupun yang bertalian dengan masa­lah-masalah hukum. Aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah itu dinamai Syariat, karena pada umumnya bersifat tegas dan jelas sehingga mudah dimengerti dan di­ikuti bagaikan jalan raya (tol) yang mulus tanpa ada tikungan dan simpangan. Atau, laksana air yang terns mengalir memberi daya hidup bagi tubuh manusia, aturan-­aturan yang ditetapkan Tuhan, menggerak­kan suasana kehidupan rohani yang man­tap dan mengarahkan akal pikiran ke arah berpikir yang sehat dan dinamis.
Al-Quran al-Karim, yang dalamnya juga kita jumpai kata syara`a dan syara`u (surat asy-Syura: 13 dan 31), mempergunakan kata syir`at dan syariat (masing-maring li­hat surat al-Maidah: 48 dan al-Jasiyah: 18) dalam arti jalan atau aturan-aturan agama yang telah ditetapkan Tuhan untuk kehidupan umat manusia.[2]
Istilah syara`i jamak dari kata Syariat pada masa-masa awal Islam digunakan un­tuk pengertian masalah-masalah pokok ajaran Islam. Orang-orang Arab Badui. ko­non diriwayatkan pernah meminta Nabi supaya mengutus seseorang guna meng­ajarkan “syara`i al-lslam” kepada mereka. Yang dimaksudkan tentu adalah ajaran­-ajaran pokok agama Islam.
Dalam pada itu istilah Syariat di masa­-masa awal Islam tampaknya mempunyai ruang-lingkup yang luas seluas ajaran-ajar­an Islam itu sendiri, tidak hanya menyangkut aspek hukum seperti yang umum di­kenal di masa-masa kemudian, akan tetapi juga mencakup masalah kalam dan lain-­lain. Tapi dalam perkembangan selanjut­nya. istilah Syariat kelihatannya menga­lami penyempitan jangkauan hingga akhir­nya terbatas pada masalah-masalah hu­kum.[3]
Dewasa ini hila disebut kata syariat, hampir dapat dipastikan bahwa yang di­maksud adalah hukum Islam atau fikih. Dan umum memang menganggap Syariat itu identik dengan fikih. Bukan saja kare­na keduanya mempunyai hubungan erat yang tak dapat dipisahkan, melainkan juga karena satu sama lain dipergunakan da­lam pengertian yang persis sama.[4]
Namun demikian tidak berarti bahwa antara Syariat dan fikih sama sekali tidak ada perbedaan di balik hubungan erat dan persamaan antara keduanya. Di antara perbedaan yang menonjol antara syariat dan fikih ialah:
Pertama: Syariat merupakan hak prerogative Allah yang kompetensi untuk me­netapkannya paling banter hanya dideligasikan kepada Nabi Muhammad. Sedang­kan fikih merupakan ketentuan-ketentuan hukum yang ditetapkan manusia yakni para fukaha (para pakar hukum Islam) sebagai basil ijtihad mereka setelah melaku­kan pemahaman terhadap al-Qur`an dan al­-Hadis.
Penggunaan istilah Syariat Allah dan syariat Nabi Muhammad tidak fikih Allah dan fikih Muhammad. mengisvaratkan tentang perbedaan antara fikih dengan syariat. Demikian pula sebutan fikih Ha­nafl. fikih Maliki. fikih Fikih Syafi’i dan fikih Hambali; tidak syariat Hanafi, syariat Maliki dan lain-lain.
Al-Quran scndiri secara tidak langsung membedakan antara Syariat dengan fikih. Berbeda dengan kata fikih (dalam al­Quran tersebut 2o kali kata fikih) yang se­muanya dikaitkan dengan manusia, al-Quran melalu menghubungkan kata Syariat dengan Allah, kecuali pada kata syara`u yang terdapat dalam surat asy-Syura ayat 31 . Dalam ayat ini kata syari`at dipertali­kan dengan umat manusia, tetapi itu pun dalam nada pernyataan ketidak setujuan Allah terhadap mereka yang membuat ­buat Syariat.
Kedua: karena Syariat Islam itu meru­pakan aturan yang ditetapkan Allah dan atau Rasul-Nya (Muhammad), maka Sya­riat apa pun alasannya tidak dapat diro­bah atau diganti oleh siapa, kapan dan di mana pun. Sedangkan fikih Islam, yang mamerupakan hasil ijtihad mujtahid, kapan dan di mana perlu pada prinsipnya boleh dirobah.
Ketiga: syariat Islam pada umumnya berisi ketentuan-ketentuan hukum dasar yang bersifat global dan berjumlah relatif sedikit, sedangkan fikih Islam yang meru­pakan penjabaran syariat Islam, pada umumnya bersifat terperinci dan berjum­lah banyak.
Keempat: syariat Islam bersifat kekal dan universal. sementara fikih Islam seti­dak-tidaknya dalam perkara-perkara ter­tentu boleh jadi bersifat Iokal dan tempo­ral. Sebutan-sebutan fikih Irak, fikih Hijaz dan lain-lain umpamanya, menunjukkan keelokan fikih Islam dalam arti bisa berbeda antara fikih negara Islam yang satu dengan fikih negara Islam yang iain. De­mikian pula tentang perubahan ketentuan hukum fikih dari waktu ke waktu. Se­dangkan syariat tidak pernah terdenaar is­tilah syariat Saudi Arabia, syariat Mesir; syariat Pakistan atau syariat Indonesia dan iain-lain. Yang ada ialah istilah syariat  Allah, syariat Nabi Muhammad dan sya­riat Islam.[5]


Pengertian Tarekat
Tarekat (tariqat) secara harfiah berarti jalan, cara, atau metode[6]. Dalam lapangan tasawuf, istilah ini sampai abad ke-11 (5 H) dipakai dengan pengertian: jalan yang harus ditempuh oleh setiap calon sufi untuk mencapai tujuannya, yaitu ber­ada sedekat mungkin dengan Allah, atau dengan kata lain berada di hadirat-Nya tanpa dibatasi oleh hijab (hijab berarti dinding yang membatas,. mata batin sese­orang dengan Allah). Pada jalan tersebut terdapat sederetan maqam-maqam (sta­sion-stasion atau tahap-tahap) yang harus dilalui, seperti maqam tobat, zuhud, sa­bar, rida, mahabbah (cinta), dan makri­fatullah (mengenal Allah dengan hati-nu­rani). Bila calon sufi itu telah mencapai maqam makrifatullah, maka ia bukan lagi calon, tapi meningkat menjadi sufi secara aktual. Sejak berdirinya organisasi-organi­sasi atau kesatuan-kesatuan jemaah para sufi dengan para murid atau pengikut ma­sing-masing pada abad ke- 12 (6 H), isti­lah tarekat tidak lagi hanya mengandung arti jalan, seperti dijelaskan di atas, tapi juga mengandung arti organisasi atau ke­satuan jemaah sufi dengan murid atau pengikutnya tersebut.[7]
Sufi menjadi pemimpin tarekat (dalam arti kedua) ini disebut Syekh. Pada mulanya tempat tinggal Syekh tarekat itu menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pembinaan para anggota tarekat, tetapi kemudian segera bermunculan ribat, seba­gai perkampungan khusus untuk pembi­naan tersebut. Anggota tarekat terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok murid atau pengikut yang tinggal dalam ribat dan memusatkan perhatian pada ibadat, dan kelompok pengikut awam yang ting­gal di luar ribat, serta tetap bekerja de­ngan pekerjaan mereka sehari-hari, tetapi pada waktu-waktu tertentu mereka ikut berhimpun dalam ribat untuk menjalani latihan spiritual.[8]
Perluasan tarekat itu biasanya berlang­sung sebagai berikut: murid yang telah di­pandang oleh Syekh berhasil mencapai tingkat tertinggi, memperoleh ijazah (sua­tu pengakuan boleh menjadi guru tarekat) dari Syekh tersebut. Pemegang ijazah itu keluar dari ribat dan selanjutnya mengada­kan serta memimpin ribat yang serupa di tempat lain. Semakin banyak murid yang menerima ijazah berarti semakin banyak pula kemungkinan berdirinya ribat-ribat baru. Ribat yang baru ini pada gilirannya tentu menghasilkan pula guru-guru tare­kat. Demikianlah sebuah tarekat dengan sebuah ribat, yang berdiri di sebuah tem­pat, dapat meluas ke berbagai penjuru du­nia Islam, dengan jumlah ribat yang ba­nyak Tidak semua cabang atau ranting suatu tarekat, menghubungkan tarekatnya kepada nama tokoh pendiri pertama, tapi kepada Syekh pendiri cabang atau ranting itu sendiri. Itulah sebabnya nama-nama ta­rekat yang bermunculan di dunia Islam berpuluh-puluh atau ratusan banyaknya.[9]
Sejarah Islam menunjukkan bahwa tare­kat-tarekat, sejak bermunculan pada abad ke-12 (6 H), mengalami perkembangan yang pesat. Dapat dikatakan bahwa dunia Islam., sejak abad berikutnya (13/7 H), pa­da  umumnya dipengaruhi oleh tarekat. Tarekat-tarekat tampak memegang peran­an yang cukup besar dalam menjaga eksis­tensi dan ketahanan umat Islam, setelah mereka dilabrak secara mengerikan oleh gelombang-gelombang serbuan tentara Tartar (kota Bagdad sendiri dimusnahkan tentara Tartar itu pada 1258 (656 H).[10] (Sejak penghancuran demi penghancuran yang dilakukan oleh tentara Tartar itu, Islam yang diperkirakan orang akan le­nyap, tetap saja mampu bertahan, bahkan dapat merembes memasuki hati turunan para penyerbu itu dan memasuki daerah-­daerali baru. Pada umumnya para anggota tarekatlah yang berperan dalam penyebar­an Islam, sejak kehancuran kota Bagdad itu.[11] Tarekat-tarekatlah yang menguasai kehidupan umat Islam selama zaman perte­ngahan sejarah Islam (abad ke-13-18/ 7-12 H). Pengaruh tarekat mulai mundur sejak awal abad yang lalu. Serangan-se­rangan terhadap tarekat, yang dulunya di­pelopori oleh Ibnu Taimiyah (w. 1327/ 728 H) terdengar semakin gencar dan kuat di masa modern. Tokoh-tokoh pembaharu dalam dua abad terakhir ini pada umum­nya memandang bahwa salah satu di anta­ra sebab-sebab mundur dan lemahnya umat Islam adalah pengaruh tarekat yang buruk (antara lain: menumbuhkan sikap taklid, sikap fatalistic, orientasi yang ber­lebihan kepada ibadat dan akhirat, dan tidak mementingkan ilmu pengetahuan).[12]
Dari sekian banyak tarekat yang pernah muncul sejak abad-abad ke-12 (6 H) itu, dapat dicatatkan antara lain: Tarekat Qa­diriyah (dihubungkan kepada Syekh Ab­dul-Qadir al-Jailani, yang wafat di Irak pa­da 1161 (561 H), yang mempunyai penga­nut di Irak, Turki, Turkestan, Sudan, Ci­na. India, dan Indonesia; Tarekat Rifa’i­vah (dihubungkan kepada Syekh Ahmad ar-Rifa’i, yang juga wafat di Irak pada 1182 (578 H), yang mempunyai pengikut di Irak dan Mesir; Tarekat Syaziliyah (di­hubungkan kepada Syekh Ahmad asy-Sya­zili, yang wafat di Mesir pada (1258/658 H), yang mempunyai pengikut di Mesir, Afrika Utara, Siria, dan negeri Arab lain­nya: Tarekat Maulawiyah (dihubungkan kepada Syekh Maulana Jalaluddin Rumi, yang wafat di Konya/Turki pada 1273/ 672 H), yang berpengaruh pada masyara­kat Turki: Tarekat Naqsyabandiyah (dihu­bungkan kepada Syekh Bahauddin Naq­syabandi yang wafat di Bukhara pada 1389 (791 H), yang mempunyai pengikut di Asia Tengah, Turki, India, Cina, dan Indonesia; dan Tarekat Syattariyah (dihu­bungkan kepada Syekh Abdullah asy­Syattari yang wafat di India pada 1236 (633 H), yang mempunyai pengikut di In­dia dan Indonesia.[13]

Pengertian Hakikat
Hakikat (Haqiqat) adalah kata benda yang berarti kebenaran atau yang benar-­benar ada. Kata ini berasal dari kata po­kok hak (al-Haq), yang berarti milik (ke­punyaan) atau benar (kebenaran). kata Haq, secara khusus oleh orang-orang sufi sering digunakan sebagai istilah untuk Allah, sebagai pokok (sumber) dari segala kebenaran, sedangkan yang berlawanan dengan itu semuanya disebut batil (yang tidak benar).[14]
Dalam ilmu tasawuf, hakikat merupa­kan salah satu bagian (tingkat) dari empat tingkatan ilmu: syariat, tarekat, makrifat dan bakikat. Syariat, sebagai ilmu yang paling awal, mempelajari tentang amal  iba­dat dan muamalat secara lahir.[15] Tarekat, sebagai ilmu kedua, mempelajari tentang latihan-latihan rohani dan jasmani yang di­lakukan sekelompok umat Islam (para sufi) menurut ajaran-ajaran tertentu, yang tujuan pokoknya adalah untuk memperte­bal iman dalam hati para pengikutnya, se­hingga tidak ada lagi yang lebih indah dan dicintai selain daripada Allah. Makrifat, sebagai tingkat ketiga, mempelajari ten­tang bagaimana mengetahui sesuatu de­ngan seyakin-yakinnya. Makrifat yang di­maksud di sini, adalah ma`rifatullah (me­ngenal Allah) baik zat-Nya, sifat-Nya mau­pun asma-Nya. Hakikat, sebagai tingkat terakhir dan lanjutan dari makrifat, berusaha menunjukkan basil dari makrifat itu ke dalam wujud yang sebenar-benarnya, atau pada tingkat kebenaran yang paling tinggi.[16]
Hakikat itu baru akan dicapai sesudah seseorang memperoleh makrifat yang sebenar­benarnya. Dan hakikat ini, hanya dapat dicapai dalam keadaan fana (hilangnya kesadaran diri dan alam sekelilingnya), karena hanya dalam keadaan yang demi­kianlah terbuka dan tersingkapnya tirai penutup yang merintangi seorang hamba dengan Tuhannya (kasyf al-mahjub). De­ngan demikian, hakikat merupakan pun­cak dari basil yang dicapai kaum sufi dalam usaha pendakian spiritual melalui tarekatnya. Dan biasanya, seorang sufi yang telah mencapai ma`rifatullah yang hakiki disebut ahli hakikat (ahlu al-Haqiqah).[17]
Menurut Ibnu Arabi, hakikat wujud ini adalah satu dalam jauhar dan zatnya, teta­pi berbilang dalam sifat dan asmanya. Se­lanjutnya ia mengatakan: “Manakala engkau meninjau dari sudut zat-Nya, eng­kau akan berkata, itulah Haq. Dan apabila engkau meninjau dari sudut sifat dan asma-Nya, dari sudut terjadinya segala se­suatu yang mumkinat, niscaya engkau ber­kata, itulah makhluk atau alam”.[18]
Hakikat juga dapat berarti ungkapan yang digunakan untuk menunjukkan mak­nanya yang pertama (makna yang sebenar­nya), kebalikan dari ungkapan majas (metafor). Akan tetapi ada beberapa ung­kapan majaz yang sudah sering digunakan, sehingga menjadi semacam konvensi, ma­jaz seperti ini dapat disebut sebagai haki­kat secara adat kebiasaan (haqiqat al-`urfi­yat).[19]


Hubungan Antara Syari`at, Tarekat,  dan Hakikat
Syariat adalah didisplin keIslaman yang menggarap aspek lahiriyah. Seiring klasifikasi zaman, syariat mengalami penyempitan arti dan garapan secara normatif yaitu fiqih.sedangkan asal mulanya syari`at merupakan pokok-pokok ajaran Islam yang masih utuh meliputi Tauhid, Hukum Islam, dan Akhlak. Menurut Fajrurrahman, Tauhid adalah bangunan pondasi yang menjadi pijakan utama dalam beragama dan syariat aturan formal yang membingkai aspek kehidupan secara legal. Adapun akhlak bidang garapan yang lahannya tingkah laku manusia dengan pendekatan sentuhan hati nurani untuk di aplikasikan dalam praktik kehidupan sehari-hari berdasarkan Al-Qur`an As-Sunnah.
Dari ketiga bidang di atas bila didalami, dihayati dan diamalakn oleh setiap kaum muslimin secara kontinyu (istiqomah) berdampak positif pada kehidupan sehari-hari. Para sufi dalam menterjemahkan ketiga aspek ini secara konstektual menjadi sebuah disiplin keilmuan dalam Islam yaitu Ilmu Tasawuf. Imam Al-Gazali dan Ihya Ulumuddin mengkombinasikan tauhid, fiqih, dan akhlak menjadi satu kesatuan yang utuh (saling terkait).
Kolerasi antara syariat dan hakikat bagaikan anak tangga yang satu sama lain saling berhubungan, tidak akan pernah ada hakikat tanpa jalan makrifat, makrifat tidak pernah ada tanpa melalui latihan (thariqat), Thariqat tidak pernah jalan tanpa adanya syari`at dan syari`at sendiri muncul karena adanya tauhid.
Untuk mempermudah pamahaman, penulis sekemakan sebagai berikut:
1.    Tauhid sebagai landasan utama dalam bertasawuf
2.    Syari`at sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan pandual Al-qu`an dan Al-Hadits.
3. Thariqat sebagai wahan latihan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan Mujahadah dan Muraqabah akhirnya tibul istiqamah
4. Ma`rifah adalah buah dari tariqat di atas yang berinflikasi kasyaf, mengetahui hakikat Tuhan.

Tasawuf (Tasawwuf) dan FATWA-FATWA ULAMA' AHLUSSUNNAH TENTANG TASAWUF

Tasawuf (Tasawwuf) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi.

 فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.
Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
(Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47)


Para ulama besar kaum muslimin sama sekali tidak menentang tasawuf, tercatat banyak dari mereka yang menggabungkan diri sebagai pengikut dan murid tasawuf, para ulama tersebut berkhidmat dibawah bimbingan seorang mursyd tarekat yang arif, bahkan walaupun ulama itu lebih luas wawasannya tentang pengetahuan syari’at Islam, namun mereka tetap menghormati para syaikh yang mulia, hal ini dikarenakan ilmu2 syari’at yang diperoleh dari jalur pendidikan formal adalah ilmu lahiriah, sedangkan untuk memperoleh ilmu batiniyah dalam membentuk “qalbun salim / akhlak yang mulia”, seseorang harus menyerahkan dirinya untuk berkhidmat dibawah bimbingan seorang mursyd Tarekat yang sejati. (yang silsilah keilmuannya jika dirunut keatas akan sampai kepada Nabi Muhammad SAW)

IMAM AL- GHAZALI
(450-505 H./1058-1111 M)
Imam Ghazali tentang tasawuf : “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, hal. 131].
Dalam bukunya an-Nusrah an-Nabawiahnya mengatakan bahwa mendalami dunia tasawuf itu penting sekali. Karena, selain Nabi, tidak ada satupun manusia yang bisa lepas dari penyakit hati seperti riya, dengki, hasud dll. Dan, dalam pandangannya, tasawuf lah yang bisa mengobati penyakit hati itu. Karena dalam ilmu tasawuf konsentrasi mempelajari pada tiga hal dimana ketiga-tiganya sangat dianjurkan oleh al-Qur’an al-karim. Pertama, selalu melakukan kontrol diri, muraqabah dan muhasabah. Kedua, selalu berdzikir dan mengingat Allah Swt. Dan ketiga, menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur, sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas.

DR. YUSUF AL-QARDHAWI

(Ketua Ulama Islam Internasional dan juga guru besar Universitas al Azhar – Beliau merupakan salah seorang ulama Islam terkemuka abad ini) didalam kumpulan fatwanya mengatakan : “Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian ruhaniah, ubudiyyah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu.”
Beliau juga berkata, “Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam, yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam ruhani, semua itu tidak dapat diingkari.”
EMPAT ORANG IMAM MAZHAB SUNNI, semuanya mempunyai seorang guru mursyd tarekat. Melalui mursyd tarekat tersebut mereka mempelajari Islam dalam sisi esoterisnya yang indah dan sangat agung. Mereka semua menyadari bahwa ilmu syariat harus didukung oleh ilmu tasawuf sehingga akan tercapailah pengetahuan sejati mengenai hakikat ibadah yang sebenarnya.

IMAM ABU HANIFAH (85 H -150 H)

(Nu’man bin Tsabit - Ulama besar pendiri mazhab Hanafi)
Beliau adalah murid dari Ahli Silsilah Tarekat Naqsyabandi yaitu Imam Jafar as Shadiq ra . Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata, “Jika tidak karena dua tahun, aku telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

IMAM MALIKI

(Malik bin Anas - Ulama besar pendiri mazhab Maliki) juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut :
“Man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqaha faqad tahaqaq”.
Yang artinya : “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, juz 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

IMAM SYAFI’I (Muhammad bin Idris, 150-205 H)

Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”
(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, juz 1, hal. 341)

IMAM AHMAD BIN HANBAL (164-241 H)

Ulama besar pendiri mazhab Hanbali berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” (Ghiza al Albab, juz 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)

SYAIKH FAKHRUDDIN AR RAZI (544-606 H)
Ulama besar dan ahli hadits) berkata :
“Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan hati mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah pada seluruh tindakan dan perilaku .” (I’tiqad al Furaq al Musliman, hal. 72, 73)

IMAM AL MUHASIBI (243 H./857 M)
Imam al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa satu itu adalah Golongan orang TASAWUF. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al- Wasiya hal. 27-32.

IMAM AL QUSHAYRI (465 H./1072 M)
Imam al-Qushayri tentang Tasawuf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali wali- Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyaf).
Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyyah, hal. 2]

IMAM NAWAWI (620-676 H./1223-1278 M)

Dalam suratnya al-Maqasid: “Ciri jalan sufi ada 5:
menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata menghindari ketergantungan kepada orang lain, bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit, selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, hal. 20]

IBNU KHALDUN (733-808 H)

Ulama besar dan filosof Islam berkata, “Jalan sufi adalah jalan salaf, yakni jalannya para ulama terdahulu di antara para sahabat Rasulullah Saww, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Asasnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan serta kesenangan dunia.” (Muqadimah ibn Khaldun, hal. 328)

IMAM JALALUDDIN AS SUYUTI

(Ulama besar ahli tafsir Qur’an dan hadits) didalam kitab Ta’yad al haqiqat al ‘Aliyyah, hal. 57 berkata, “Tasawuf yang dianut oleh ahlinya adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Ilmu ini menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi Saww dan meninggalkan bid’ah.”

TAJUDDIN AS SUBKI

Kitab Mu’iid an-Na’iim, hal. 190, tentang Tasawuf : “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah”
Dia berkata pula : “Mereka adalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia”

IBNU ‘ABIDIN

Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn cAbidin (p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].

SYEIKH RASYID RIDHA

Dia berkata,”Tasawuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri danmempertanggung jawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” [Majallat al-Manar, tahun pertama hal. 726].

MAULANA ABUL HASAN ALI AN-NADWI

Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah”
“Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuhan mereka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”

ABU ‘ALA AL MAUDUDI

Dalam Mabadi’ al-Islam (hal. 17), “Tasawuf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul” “Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.”



Seperti itulah pengakuan para ulama besar kaum muslimin tentang tasawuf. Mereka semua mengakui kebenarannya dan mengambil berkah ilmu tasawuf dengan belajar serta berkhidmat kepada para syaikh tarekat pada masanya masing-masing. Oleh karena itu tidak ada bantahan terhadap kebenaran ilmu ini, mereka yang menyebut tasawuf sebagai ajaran sesat atau bid’ah adalah orang-orang yang tertutup hatinya terhadap kebenaran Allah SWT.
Ringkasnya, belajar Tasawuf dengan memilih Tarekat yang benar, Tarekat yang mu’tabaroh (yang diakui keabsahannya di dunia Islam) dari segi silsilah guru dan ajarannya dari dahulu maupun sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagiaan serta kedamaian.
Dengan ilmu Tasawuf manusia dapat lebih mengenal diri sendiri, dengan demikian akan lebih mengenal Tuhannya. Sehingga manusia mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia serta dari godaan keindahan materi. Dan hanya Allah SWT yang lebih mengetahui niat hamba-hamba-Nya yang tulus.
* * * * * * * * * * * * *
Laa ilaha illa allah
Tiada Tuhan kecuali Allah

Laa ma’buda illa allah
Tiada yang disembah kecuali Allah

oleh Sutarom 'Tarom' pada 24 Juni 2011

Kekhawatiran Nabi Muhamad Terhadap Umatnya

Nabi muhammad adalah seorang pembawa risalah Alloh yang sangat mencintai umatnya. Sepanjang hidupnya ia dedikasikan untuk menyebarkan risalah Alloh kepada umat manusia, walau dihadapkan pada tantangan, cemoohan dan penderitaan.
Alloh SWT menggambarkan sifat dan perjuangan nabi Muhammad dalam QS Attaubah 128:
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. 9:128)
Berangkat dari kecintaan beliau yang sangat besar terhadap umatnya, ia menginginkan umatnya senantiasa berada dalam keimanan agar selamat dunia dan akhirat. Untuk itulah, beliau memiliki beberapa kehawatiran yang tidak ingin terjadi kepada umatnya. Karena jika kekhawatiran ini terjadi, niscaya umat itu ada dalam kesesatan dan kecelakaan dunia dan akhirat.
Apa sajakah kekhawatiran nabi itu? Jawabannya adalah sebagai berikut:
#1. Pemimpin yang menyesatkan (Dholim)

Nabi sangat mengkhawatirkan jika umatnya dipimpin oleh pemimpin yang menyesatkan (dholim) . Kenapa? Karena seorang pemimpin adalah lokomotif yang menentukan arah suatu masyarakat. Baik buruknya tatanan masyarakat akan sangat ditentukan oleh pemimpinnya. Islam melarang umatnya memilih musuh Alloh dan musuh orang beriman sebagai pemimpin baginya. Begitu pula orang yang tabiatnya lebih cenderung terhadap kekafiran daripada keimanan.
Nabi sangat mengkhawatirkan, jika umatnya dipimpin oleh pemimpin yang dholim (menyesatkan), maka umatnya akan rusak.

#2. Riya
Nabi berkata, “Yang paling aku takuti terjadi pada umatku, yakni umatku mampu beramal sholeh tetapi terjebak pada syirik kecil”, Shahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan Syirik kecil itu?”, Nabi menjawab, “Riya”.
Riya adalah ketika seseorang beramal sholeh, ia ingin dilihat oleh manusia dan ingin mendapat pujian. Saat di akhirat kelak, Alloh menyuruh orang yang berbuat riya untuk minta pahala kepada yang di-riyai-nya. Alloh hanya menginginkan amal yang dilakukan seseorang semata-mata untuk mengharap ridho Alloh, bukan yang lainnya.
Sangatlah mudah mengindikasikan apakah perbuatan (ibadah) yang kita lakukan termasuk kategori riya atau tidak. Jika kita semakin bersemangat melakukan ibadah saat ada orang lain yang memuji, dan berhenti saat ada orang menghina, maka berhati-hatilah karena perbuatan itu termasuk kategori riya (manusia oriented). Adapun orang yang ikhlas, ia akan tetap istiqomah menjalankan ibadah, tanpa pengaruh pujian atau hinaan orang lain (Alloh oriented).

#3. Perzinahan
Saat ini, perzinahan telah merajalela di lingkungan sekitar kita, bahkan telah menjadi trend di kalangan generasi muda. Islam sangat melarang perbuatan zina, bahkan perbuatan yang mendekati perzinahanpun dilarang. Dalam pandangan Islam, perbuatan zina merupakan perbuatan keji, buruk  dan merusak tatanan sosial.

#4. Munafik yang Pintar Ngomong
Kehadiran orang munafiq yang pintar ngomong sangatlah membahayakan. Ia memiliki kemampuan orasi yang meyakinkan sehingga orang takjub dan kagum terhadap apa yang ucapkannya, meskipun ucapan itu hanyalah hiasan bibir belaka. Alloh akan menempatkan orang munafiq di neraka paling dasar. Orang munafiq selalu dusta saat dia berbicara, menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafirannya. Kehadirannya dalam umat hampir tidak kelihatan karena ia bersembunyi dalam kekafiran.
#5. Kesesatan Hawa Nafsu
Nabi sangat takut jika umatnya berada dalam kesesatan hawa nafsu dan syahwat.  Mereka cenderung mengikuti hawa nafsu baik perut maupun kemaluan. Satu satu faktor yang menyebabkan seseorang mengikuti hawa nafsu, ialah meninggalkan sholat.

#6. Lalai Meskipun Tahu
Adab yang paling keras akan ditimpakan Alloh kepada yang ‘alim tetapi tidak mengamalkan ilmunya.
#7. Percaya Dukun dan Mengingkari Takdir
Siapa orang yang datang ke orang pintar (dukun), bertanya sesuatu dan mengimani ucapannya, maka sholatnya selama 40 hari tidak diterima. Saat ini, banyak orang islam yang percaya dukun karena ingin naik pangkat, laris usahanya, dan lain sebagainya. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam, sampai-sampai nabi mengkhawatirkan jika hal ini terjadi kepada umatnya.
(Dikutip dari pengajian Ahad, 21 Feb 2010, Mesjid Darussalam Kota Wisata)

Kamis, 23 Juni 2011

BERBAGAI MACAM PENYAKIT AKIBAT MEROKOK




 Merokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit yang mengakibatkan kematian. Dapat kita klasifikasikan berdasarkan organ tubuh yang terkena penyakit:
Penyakit yang menyerang hati dan organ sirkulasi:
 Penyakit-penyakit ini secara mendasar berkaitan langsung akibat mengkonsumsi rokok:
1.  Penyempitan pembuluh darah koroner (nyeri pada dada yang sangat parah), penggumpalan hati dan bisa menyebabkan kematian mendadak.
2.  Pembekuan pembuluh darah pada otak
3.  Gangguan sirkulasi darah pada anggota tubuh yang mengakibatkan pembekuan serta amputasi pada  betis atau Gargarina.

Penyakit-penyakit pada organ pernapasan:
 Penyakit ini juga berkaitan secara langsung akibat mengkonsumsi rokok:
1.  Kanker Paru-Paru.
2.  Kanker Tenggorokan.
3.  Radang Rongga Tenggorokan yang akut.
4.  Radang Rongga Hidung dan alergi pada hidung.
5.  Asma dan berbagai macam bentuk alergi.
Penyakit-Penyakit Kejiwaan.
1. Kesedihan kejiwaan.
2. Kegamangan kejiwaan.
3. Tempramen yang labil.
4. Gangguan tidur.
5. Lemahnya selera.
6. Rasa cemas dan emosional.
Berikut data statistik yang dilakukan di Inggris tentang tingkat kematian pertahun perseratus ribu orang penduduk serta penyebabnya dan cara penggunaan rokok* :
Penyakit Tingkat. kematian Tingkat kematian pada perokok
kretek (sigaret)

  pipa 1-14 15-24 25 kretek
  kretek kretek kretek lebih
Kanker paru-paru 10 58 78 127 251
Kanker organ
pernafasan 1 9 5 7 33
Radang rongga kronis & Infezima  3 28 51 78 114
Serangan jantung 413 425 608 652 792
Gagal jantung 67 101 136 116 202
* Sumber : Jabir bin Salim Musa dkk, Al-Mukhoddirot (Al-Akhtor, Al Mukafahah, Al-Wiqoyah, Al-Ilaaj), hal. 153
Berikut data statistik dari penelitian yang dilakukan di Amerika tentang tingkat kematian pertahun yang diakibatkan oleh penyakit yang disebabkan merokok pada mereka yang berusia diatas dua puluh tahun*:
Penyakit Laki-laki                       Wanita
 Meninggal
keseluruhan Meninggal
karena
merokok Meninggal
keseluruhan Meninggal
karena
merokok
   
Kanker bibir,mulut & tekak 5754  3958 2689 1110
Kanker saluran makanan 6310 1717 1345 1257
Kanker perut 7368 1455 5772 1469
Kanker Pankreas 11513 3459 11634 1653
Kanker tenggorokan 2959 2385 664 247
Kanker paru-paru, saluran pernapasan & tenggorokan 82459 65659 36227 17170
Kanker kandung kemih 6597 2447 3114 853
Kanker ginjal 5424 1319 3403 304
Tekanan darah tinggi 13464 2099 17855 2645
Sakit jantung 78340 22362 27000 4892
Pengerasan pembuluh darah 9235 2200 15216 4797
Radang paru-paru dan Influenza  28774 5986 28935 2679
Radang saluran  pernapasan yang akut dan Infezima  10708 9097 5517 3831
Tersumbatnya saluran pernafasan yang akut 31240 26541 26525 11545
• Sumber : Jabir bin Salim Musa, Al-Mukhoddirot …, hal 13
Penyakit-penyakit yang menimpa organ pencernaan:
 Perokok dengan segala macam caranya akan mengalami hal berikut:
1.  Radang Mulut, bibir, lidah dan rahang serta Radang gigi, gusi dan pecahnya email (lapisan gigi).
2.  Kanker mulut, bibir, lidah, rahang dan gusi.
3.  Kanker Tekak.
4.  Kanker Saluran Makanan.
5.  Kanker Pankreas.
6.  Radang saluran pernapasan dan Tekak.
7.  Radang dan luka pada lambung dan usus dua belas jari.
Penyakit yang menimpa mata:
1. Radang selaput ikat mata.
2. Radang selaput pelangi mata.
3. Bertambahnya alergi pada mata.
4. Melebarnya pupil mata akibat pengaruh nikotin dan  cahaya yang rusak.
5. Radang saraf dan terhentinya pertumbuhan  pada mata yang dapat  mengakibatkan rabun mata .
  Penyakit yang menimpa sistim saluran air kencing:
1.  Tumor jinak pada kandung kemih.
2.  Kanker pada kandung kemih (penyakit ini kian bertambah jika seseorang mengidap Billharsia).
3.  Kanker Ginjal.  
                                                          
Bahaya merokok pada kehidupan seksual:
 Merokok berdampak buruk  terhadap  sperma,  terutama bagi mereka yang mengalami lemah sperma, dapat mengakibatkan kemandulan dan dapat mengakibatkan kelemahan seksual bagi perokok berat.
Wanita dan Rokok
 Wanita perokok juga berpotensi sama mengidap penyakit yang telah disebutkan terdahulu, disamping itu mereka juga akan mengidap penyakit yang khusus terhadap wanita:
1.  Berpeluang besar terkena kanker leher rahim.
2.  Sering mengalami keguguran
3.  berkurangnya timbangan bayi yang dilahirkan.
4.  Berpeluangnya kematian bayi dan  keguguran.
Anak-anak dan Bahaya rokok.
 Anak-anak yang menjadi perokok pasif (tidak merokok, tapi dekat/menghirup asap orang yang merokok) karena kedua orang tuanya atau salah satunya merokok akan  mendatangkan beberapa penyakit terhadap mereka, diantaranya:
1.  Berpeluang besar terkena radang paru-paru, khususnya bagi bayi yang menyusui.
2.  Berpeluang terkena alergi pada organ pernapasan (hidung, rongga hidung, saluran udara)
3.  Lambatnya petumbuhan fisik dan otak jika dibandingkan dengan anak-anak yang kedua orang tuanya tidak merokok.
 Adapun anak-anak yang sudah merokok, maka kemungkinan mereka terkena penyakit diatas menjadi dua kali lipat.

Selasa, 21 Juni 2011

~* <<< Tanda-Tanda Telah Meraih Kenikmatan Ibadah >>> *~

Assalamu'alaikum...
Bismillahir-Rahmanir-Rahim...

KETIKA ENGKAU BERSEMBAHYANG

Ketika engkau bersembahyang...
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar... Bersama-sama
mengucapkan Allahu Akbar .... Bacaan Al-Fatihah dan surah.. Membuat
kegelapan terbuka matanya .... Setiap doa dan pernyataan pasrah .....
Membentangkan jembatan cahaya .... Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat
bumi .... Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri .... Kemudian mim
sujudmu menangis ...Di dalam cinta Allah hati gerimis .... Sujud adalah
satu-satunya hakekat hidup ..... Karena perjalanan hanya untuk tua dan
redup ..... Ilmu dan peradaban takkan sampai .. Kepada asal mula setiap
jiwa kembali ...Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri .... Pergi
sejauh-jauhnya agar sampai kembali .... Badan di peras jiwa dipompa tak
terkira-kira .... Kalau diri pecah terbelah, sujud mengukuhkannya ....
Sembahyang di atas sajadah cahaya ... Melangkah perlahan-lahan ke rumah
rahasia .... Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya ... Yang tak
bisa dikisahkan kepada siapapun .... Oleh-olehmu dari sembahyang adalah
sinar wajah ...Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika ... Hatimu
sabar mulia, kaki seteguh batu karang ... Dadamu mencakrawala ...,
seluas 'arasy sembilan puluh sembilan........
Oleh :Emha Ainun Najib

Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang memasuki pasar maka hendaklah ia membaca :

"Laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumiitu, wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoir, wa huwa 'alaa kulli syai'in qodiir..."

(Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian, Yangmenghidupkan dan Mematikan. Ia hidup dan tidak mati, di Tangan-Nya kebaikan dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu.),

maka Allah akan menulis baginya satu juta kebaikan, dihapuskan darinya satu juta kejelekan dan diangkat dirajatnya satu juta dirajat." Dan dalam riwayat lain disebutkan: "Dan akan dibangun untuknya rumah di surga."
(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)

------------------------------------------------~>>>


Tidak diragukan lagi bahwa ibadah menghadirkan rasa nikmat, kebahagiaan hati kelapangan dada, dan ketentraman jiwa. Rasa-rasa ini hadir ketika seorang hamba sedang melaksanakan ibadah kepada penciptanya. Dan rasa itu terus berlanjut walau sudah selesai dari melaksanakannya.

Seorang 'abid (yang beribadah) merasakan manisnya iman dalam hatinya, kenikmatan bermunajat dalam dzikir mereka, ketenangan dan ketentraman jiwa ketika ruku' dan sujud. Semua ini adalah kenikmatan ibadah yang sebenarnya diharap oleh nafsun muthmainnah (jiwa yang tenang).

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam dalam sabdanya:

“Dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.” (HR. An-Nasai, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad, 1/82)

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam memberikan pernyataan seperti ini karena beliau mendapatkan kelezatan dan kebahagiaan hati ketika mengerjakan shalat. Panjangnya shalat malam beliau merupakan satu bukti tentang kelezatan yang beliau peroleh tatkala bermunajat kepada Rabb-nya.

Menjelang wafat, Mu’adz bin Jabal radhiallahu 'anhumenangis. Namun ia bukan menangisi ajal yang akan menjemputnya. Berikut sebab tangisnya:

“Aku menangis hanyalah karena aku tidak akan merasakan lagi rasa dahaga (orang yang berpuasa) ketika hari sangat panas, bangun malam untuk melaksanakan shalat di musim yang dingin, dan berdekatan dengan orang-orang yang berilmu saat bersimpuh di halaqah dzikir."

Aku menangis hanyalah karena aku tidak akan merasakan lagi rasa dahaga (orang yang berpuasa) ketika hari sangat panas, bangun malam untuk melaksanakan shalat di musim yang dingin, . . (Mu'adz bin Jabal)

Kenikmatan yang dirasakan seorang hamba dalam ibadahnya tadi merupakan anugerah Allah terbesar baginya. Dia akan selalu rindu dengan ibadah dan senantiasa menunggu-nunggu kehadirannya. Sebelum waktu ibadah itu tiba, dia sudah bersiap diri menyambutnya.

Namun, tidak semua orang yang beribadah merasakan kenikmatan tersebut. Allah sebutkan tentang kondisi orang munafikin yang kosong dari kenikmatan dalam melaksanakan ibadah yang paling utama, yaitu shalat.

"Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS. An Nisa': 142)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menfasirkan ayat di atas, "inilah sifat orang munafikin terhadap amal ibadah yang paling mulia, utama, dan terbaik, yaitu shalat. Jika melaksanakannya, mereka berdiri dengan malas. Hal ini disebabkan karena tidak ada niatan dalam dirinya, tidak mengimaninya, dan tidak memahami maknanya."

Sesungguhnya orang yang merasakan kenikmatan ibadah memiliki tanda-tanda dzahir sebagaimana iman juga memiliki indikasi-indikasi dzahirnya. Allah berfirman,

"Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud." (QS. Al Fath: 29)

Abu Darda', salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Wahai Ahlul Madinah, kenapa aku tidak melihat kenikmatan iman pada diri kalian? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau seandainya seekor hewan merasakan kenikmatan iman pasti akan terlihat manisnya iman padanya." (Dalam az Zuhd libni al Mubarak dan Syu'ab al Iman milik Imam al Baihaqi: III/130)

Di antara tanda-tanda orang merasakan nikmatnya ibadah adalah bersegera melaksanakan ketaatan, memperpanjang bacaan shalat, merutinkan puasa, memperbanyak tilawah al Qur'an, merasa rugi jika tertinggal dari melaksanakan ketaatan, dan rindu bertemu dengan Allah untuk merasakan kenikmatan terbesar.


Pertama, bersegera melaksanakan ketaatan

Sikap seorang mukmin jika menghadapi macam ibadah apapun, dia akan bersegera melaksanakannya karena rindu dengan kedatangannya. Baik terhadap waktu shalat, kedatangan bulan ramadlan, haji, jihad atau ibadah lainnya.

Dia berusaha agar tidak didahului oleh orang lain dalam masalah ibadah. Sebagaimana dia tidak mau menjadi urutan pertama dalam urusan dunia dan terlambat dalam urusan akhirat. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Janganlah menjadi orang yang pertama kali masuk ke dalam pasar dan yag terakhir keluar darinya." (HR. at Thabrani dalam al Kabir dengan sanad shahih dan al Baihaqi dalam Syu'ab al Iman)

karena pasar menjadi markas syetan dan dikibarkan bendera mereka. Hal ini menunjukkan agar seorang mukmin tidak berlomba dan berkompetisi dalam urusan dunia, tapi mereka hanya mau berkompetisi dalam urusan akhirat.

Berlomba-lomba menjadi juara pertama dalam urusan akhirat tidaklah masuk kategori kompetisi yang tercela. Bahkan mengalah dalam hal ini tidak diperbolehkan. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Mengalah (mendahulukan yang lain) dalam segala sesuatu itu baik, kecuali dalam urusan akhirat." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh al Hakim dan disepakati oleh al Dzahabi dari Sa'id bin Abi Waqqash dalam Shifatus Shafwah (III/304).

'Adi bin Hatim, salah seorang shabat, sudah bersiap-siap melaksanakan shalat sebelum datang waktunya dan selalu rindu dengan kehadirannya. Dia menyatakan, "tidaklah datang waktu shalat kecuali aku sudah siap. Dan tidaklah datang waktu shalat kecuali aku sudah sangat rindu melaksanakannya."

Tokoh besar Tabi'in, Sa'id bin Musayyib mengatakan, "sejak tiga puluh tahun, tidaklah seorang mu'adzin mengumandangkan adzan kecuali aku sudah berada di masjid."

. . . sejak tiga puluh tahun, tidaklah seorang mu'adzin mengumandangkan adzan kecuali aku sudah berada di masjid. . . (Sa'id bin Musayyib)

Beliau juga pernah mengatakan, "aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat selama 50 tahun. Aku juga tak pernah melihat punggung para jamaah, karena aku selalu berada di shaf terdepan selama 50 tahun."

Muhammad bin Sama'ah at Tamimi rahimahullahmenyatakan selama empat puluh tahun tidak pernah tertinggal takbiratul ihramnya imam, kecuali ketika ibunya meninggal.

Muhammad bin Sama'ah at Tamimi . . . selama empat puluh tahun tidak pernah tertinggal takbiratul ihramnya imam. . .

Al Imam al Qari', 'Ashim bin Abil Junud ketika melewati sebuah masjid pasti beliau mampir untuk melaksanakan shalat di sana. Hal ini karena beliau sangat rindu dengan shalat.

Yunus bin Ubaid sudah dalam kondisi siap sebelum perintah Allah datang kepadanya. Makanya dia senantiasa dalam kondisi suci supaya tidak tertinggal dari shalat sunnah atau shalat wajib ketika datang waktunya.

Juga perlu diketahui, syetan berusaha keras agar seorang mukmin terlambat melaksanakan ibadah. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, syetan mengikatkan tiga ikatan pada tengkuk seseorang ketika sedang tidur. Pada setiap ikatan tadi syetan mengatakan, "malam masih panjang teruslah tidur." Dan ketika orang tadi bangun lalu mengingat Allah, maka lepaslah satu ikatan darinya. Lalu jika dia berwudlu, lepas satu ikatan lagi. Dan jika ia shalat maka lepaslah seluruh ikatan syetan sehingga di pagi hari dia akan semangat. Dan jika tidak melakukan semua tadi, di paginya dia akan malas."(HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

...syetan berusaha keras agar seorang mukmin terlambat melaksanakan ibadah...

Karenanya jangan ditunda-tunda ketika ingin melaksanakan ibadah dan ketika tiba kesempatan beribadah.


Kedua, memperpanjang bacaan shalat

Orang yang merasakan nikmatnya ibadah tidak akan merasakan banyaknya waktu yang dihabiskannya, bahkan waktu yang panjang terasa sebentar.

Setahun dihabiskan untuk kesenangan terasa sebentar
Sehari yang berisi keburukan terasa setahun

Dari sini, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan qiyamullail dengan membaca surat al Baqarah, Ali Imran, dan al Nisa' dalam satu rakaat. Tidak terasa waktu yang lama itu karena terisi nikmatnya munajat.

Begitu juga yang dijalankan oleh para sahabat beliaushallallahu 'alaihi wasallam dan para pengikut mereka. Diriwayatkan dari khalifah Utsman bin 'Affan, beliau menghatamkan Al Qur'an dalam satu rakaat. (Diriwayatkan Abu 'Ubaid dalam Fahlaa-il al Qur'an: hal. 90).

Beliau bisa begitu karena tidak merasa capek dengan lamanya berdiri dalam shalat karena merasakan nikmatnya membaca Al Qur'an. Beliau sendiri pernah berkata:

"Jika hati kalian bersih, pasti tidak akan pernah kenyang untuk membaca al Qur'an." (HR. Ahmad dalam Zawaid al Zuhd: 155)

Tamim ad Daari, Sa'id bin Jubair, dan Imam Abu Hanifahrahimahumullah menghatamkan Al Qur'an dalam satu raka'at bersama beberapa orang, sebagaimana yang dikomentari oleh Imam Nawawi rahimahullah, "boleh jadi ini pada malam musim dingin yang panjang, ditambah lagi berkahnya masa pada zaman itu." (At Tibyan fi Aadaab Hamalah Al Qur'an: 81)

"Jika hati kalian bersih, pasti tidak akan pernah kenyang untuk membaca al Qur'an."

Abu Ishaq al Sabi'ii rahimahullah ketika sudah tua tidak mampu berdiri shalat sehingga harus dibantu. Jika sudah berdiri shalat, beliau membaca seribu ayat. Beliau mengatakan, "aku sudah tua dan tulangku sudah lemah, sungguh hari ini, aku berdiri shalat dengan membaca surat al Baqarah dan Ali Imran."

Subhanallah, di kala sudah tua dan lemah, beliau berdiri shalat dan tidak ruku' kecuali setelah membaca surat al Baqarah dan Ali Imran. Untuk membaca kedua surat tadi, paling tidak dibutuhkan waktu satu seperempat jam.

Di bawah itu ada 'Atha bin Abi Rabbaah (w. 114 H.) pada saat sudah tua dan lemah, beliau melaksanakan shalat dan membaca dua ratusan ayat dari suarat al Baqarah dengan berdiri, selama itu beliau tidak bergeser dan tidak bergerak. (Dikeluarkan oleh al Baihaqi dalam Syu'ab al Imaan: 6/783)

Khalid bin Daarik berkata, "kami memiliki seorang imam di Bashrah. Dia menghatamkan Al Qur'an empat hari sekali selama bulan Ramadlan. Dan kami menilainya sudah meringankan bacaan." Artinya dia membaca seperempat Al Qur'an setiap harinya, dan masih dianggap telah meringankannya. Tidak ada penafsiran lain kecuali mereka itu jika sudah menghadap Rabb-nya Yang Mahasuci dan Maha tinggi, mereka lupa kepada selain-Nya.

Ada bentuk memanjangkan shalat yang lain, yaitu shalat Shubuh dengan wudlu isya'. Dan sudah banyak ulama Salafus Shalih yang mengerjakannya. Maknanya mereka tidak tidur semalaman, waktunya diisi dengan ibadah dan berkhalwah (menyendiri) dengan Allah 'Azza wa Jalla.

Di antara mereka adalah Sa'id bin Musayyib rahimahullah. Disebutkan bahwa beliau melakukan shalat Shubuh dengan wudlu Isya' selama lima puluh tahun. Ini adalah imam at tabi'in dan pemimpin mereka. Dalam amalnya tidak ada yang diingkari. Hal itu tidak hanya dikerjakan satu atau dua tahun. Kalau seandainya jumlah yang disebutkan itu dibesar-besarkan, maka prakteknya tidak akan kurang dari setengahnya.

Ulama salaf lainnya adalah Sulaiman al Taimi al Bashrirahimahullah yang shalat shubuh dengan wudlu' isya' selama 40 tahun.

Di antara salafus Shalih ada yang bersungguh-sungguh ibadah sehingga kalau dikatakan kiamat terjadi besok hari, dia tidak bisa lagi menambah amal ibadahnya, karena sudah dikerjakan melebihi kemampuan. Di antara mereka ada Abu Muslim al Khaulani rahimahullah, beliau berkata, "kalau dikatakan padaku, Jahannam sudah dinyalakan, maka aku tak bisa lagi menambah amalku."

Kenikmatan ibadah yang dirasakan sebagian ulama menjadikan mereka berdoa kepada Allah agar menganugerahkan shalat di kuburnya. Harapannya supaya bisa merasakan nikmatnya shalat di alam kubur sebagaimana yang dirasakannya di dunia. Dan Allah mengabulkan permohonannya itu.

"Ya Allah, jika Engkau masih memberikan kesempatan untuk shalat dalam kuburnya, maka berikan aku kesempatan shalat dalam kuburku." (doa Tsabit al Bannaani)

Tsabit bin Aslam al Bannaani al Bashri rahimahullah berkata, "tidak ada sesuatu yang kurasakan dalam hatiku lebih nikmat daripada qiyamullail." Dan beliaupun berdo'a "Ya Allah, jika Engkau masih memberikan kesempatan untuk shalat dalam kuburnya, maka berikan aku kesempatan shalat dalam kuburku." (Dikeluarkan oleh al Baihaqi dalamSyu'ab al Imaan: 6/402)

Lalu Allah mengabulkan permintaannya, maka dilihat oleh Abu Sinan -orang yang menguburkannya-Tsabit shalat dalam kuburnya. Dan ada orang yang bersumpah telah bermimpi melihatnya shalat di kubur dengan memakai pakaian sutera hijau.

Mereka menghidupkan malamnya dengan ketaatan kepada Rabb-nyaDengan tilawah, tadharru', dan berdoa


Air mata mereka mengalir dengan deras

Seperti mengalirnya lembah karena hujan

Di waktu malam laksana rahib, dan ketika berjihad

menghadapi musuhnya, mereka ksatria paling berani

Di wajahnya terdapat bekas sujud pada tuhan-nya

Dengannya kilauan pancaran cahaya-nya


Imam al Syatibi rahimahullah berkata, "yang disebutkan tentang orang shalih terdahulu berupa amal-amal mereka yang berat yang tidak bisa dikerjakan kecuali oleh pribadi-pribadi yang telah Allah persiapkan untuk melaksanakannya dan menyiapkannya untuk mereka. Allah telah menjadikan mereka suka kepada amal-amal itu. Hal itu tidaklah menyimpang dari sunnah, bahkan mereka tergolong dalam kelompok as Sabiqiin (bersegera melaksanakan ketaatan), semoga Allah menjadikan kita dalam barisan mereka. Hal itu dikarenakan alasan yang menjadikan dilarangnya beramal yang berat telah hilang dari diri mereka. Maka larangan itu tidak berlaku atas mereka." (Al Muwafaqaat: 2/140)

Sesungguhnya kenikmatan ibadah bukan ada pada zaman dahulu saja. Al Hamdulillah, zaman kita sekarang juga masih ada. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz rahimahullahselalu menjaga qiyamullail dalam kondisi muqim atau safar.

Dikisahkan oleh salah seorang sahabat beliau, dalam sebuah perjalan darat dari Riyadl ke Makkah. Di pertengahan malam, pukul 24.00 waktu setempat, Syaikh berkata: "Bagaimana kalau kita tidur dulu di sini kemudian kita lanjutkan perjalanan esok pagi?" Orang-orang yang dalam rombongan beliau setuju. Lalu mereka tidur, sedangkan Syaikh minta air untuk wudlu kemudian shalat sebanyak yang beliau mau, setelah itu beliau tidur. Ketika bangun shalat Shubuh, mereka dapati Syaikh telah lebih dulu bangun dan sudah shalat. (Sekilas biografi Syaikh Abdul 'Aziz bin Bazz oleh Andurrahman al Rahmah : 236-237)

Suatu kali beliau diundang ke Jeddah -waktu itu beliau berada di Makkah-, beliau sanggupi undangan itu. Beliau kembali ke rumahnya di Makkah pada pukul 02.00 dini hari. Orang-orang dalam rombongan beliau tidur. Ketika sudah masuk waktu untuk shalat tahajjud, sekitar pukul 03.00, beliau membangunkan mereka untuk shalat. Kamudian beliau shalat hingga masuk shubuh. Setelah shalat, beliau menyampaikan ceramah sebentar lalu melakukan aktifitas mu'amalah.

Itulah beliau, di tengah-tengah agenda harian beliau yang padat, tidak pernah meninggalkan qiyamullail.

Wahai ikhwan fillah, contoh-contoh yang disebutkan di depan terasa jauh dari angan-angan kita. Jika antum sekalian mau, pasti bisa Insya Allah. Caranya, laksanakan secara bertahap, sedikti-demi sedikit. Mulailah shalat malam dengan beberapa surat pendek. Setelah berjalan beberapa hari, mulailah membaca surat-surat panjang. Lama-kelamaan, antum akan terbiasa melaksanakan shalat dengan lama. Jangan seperti orang yang langsung shalat dengan bacaan panjang lalu berhenti, tidak melaksanakannya lagi. Sesungguhnya amal yang disenangi Allah adalah yang kontinyu walau sedikit.

Sesungguhnya amal yang disenangi Allah adalah yang kontinyu walau sedikit.


Semoga bermanfaat dan penuh Kebarokahan dari Allah.....

Jumat, 17 Juni 2011

ALLAH Mengharamkan Berlibur Hari Sabtu dan Minggu

Masyarakat Islam adalah orang-orang aktif dinamis. Mereka tidak membiarkan waktu berlalu dengan percuma bermalas-malas, tetapi mempergunakannya untuk kepentingan amar makruf nahi mungkar dan kegiatan lainnya dalam masyarakat, pelaksanaannya tercakup pada Ayat 4/103, juga diperkuat oleh Firman yang maksudnya:


وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِوَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

3/104. Hendaklah ada dari kamu ummat yang menyeru kepada kebaikan serta menyuruh
pada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Itulah orang-orang yang menang.


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
49/10. Bahkan orang-orang beriman itu bersaudara, maka berbuat baiklah di antara sesamamu,
dan insaflah pada ALLAH semoga kamu dikasihi.


Tidak ada waktu bagi orang-orang beriman untuk istirahat bersenang-senang tanpa kerja sementara warga sesamanya masih hidup kekurangan. Mereka tidak akan istirahat selagi masih ada urusan yang belum selesai atau yang akan diperbaiki terutama yang berhubungan langsung dengan hukum Muhkamat menurut Alquran. Istirahat bagi mereka hanyalah tidur waktu mana tubuh dan pikiran memang mengaso tanpa sesuatu pekerjaan, membentuk kekuatan baru, untuk bangun kembali dengan kondisi sehat segar bagi kegiatan lain.

Jika diperhatikan dengan seksama akan diketahuilah bahwa ketentuan ALLAH demikian sesungguhnya benar dan jadi kenyataan, bahwa istirahat hanyalah waktu tidur. Betapa pula seorang dikatakan istirahat sewaktu bangun padahal otaknya tetap bekerja mengingat dan berpikir. Maka orang yang sengaja menghentikan pekerjaan otaknya sewaktu bangun berarti memaksakan sesuatu yang tidak mungkin berlaku atau hanya sekedar menipu diri dan memperbodoh otaknya sendiri. Betapa pula seorang dikatakan istirahat sewaktu bangun jika seluruh anggota badannya masih berfungsi dan bekerja untuk makan minum dan sebagainya, kecuali istirahat itu hanyalah penamaan yang diberikan untuk mengelakkan tugas sehari-hari agar dapat berbuat leluasa menurut kehendak hati yang umumnya mendorong kepada tantangan terhadap hukum Islam. Dia lalu menamakan istirahat itu dengan libur atau week-end, dan mengisikan acara hari itu dengan pesta, minuman keras, main kartu, piknik, pertandingan judi, dan lain-lain yang sebahagian besar dilarang ALLAH.

Sebaliknya orang-orang beriman hanya istirahat waktu tidur setiap hari, dan libur tahunan pada bulan Ramadhan selama 29 atau 30 hari. Mereka hidup tanpa week-end yang jumlahnya 52 hari pada masyarakat lain. Mereka menang dalam jumlah hari kerja tanpa menghentikan kegiatan otak dan selalu menghindarkan diri dari kemarahan ALLAH. Kerugian dalam bidang ekonomi rumah tangga dan negara tampak berlaku dengan libur mingguan, sementara keuntungan hampir tiada. Seorang suami tidak beruntung dengan libur mingguan karena tenaganya bukan bertambah pada hari itu malah berkurang dengan berbagai kesibukan mingguan, tetapi rugi karena penghasilannya terhenti satu hari dalam seminggu bahkan kadang-kadang libur itu menghabiskan penghasilan yang didapatnya selama enam hari berlalu. Jika dia berlibur selama bulan Ramadhan, maka harinya hanyalah 29 atau 30 tetapi hidup dalam bimbingan iman menurut hukum Islam tanpa pemborosan dan perbuatan mungkar. Jadi libur tahunan menurut Islam pada bulan Ramadhan lebih berfaedah dan konstruktif, sementara libur mingguan menurut agama lain bahkan merugikan dan sifatnya destruktif terhadap hukum ALLAH.

Suatu negara tidaklah beruntung meresmikan libur mingguan bagi jawatan dan penduduknya. 52 hari dalam setahun jadi terbuang percuma sementara berbagai urusan biasanya bertumpuk untuk diselesaikan. Celakanya lagi, pegawai atau buruh yang tidak menilai jabatan dan hidupnya secara wajar, malah mempercepat libur itu dengan hari sebelumnya atau memperpanjang dengan hari berikutnya, yaitu yang sebenarnya tidak pernah ada jika dipakai libur tahunan pada bulan Ramadhan. Negara dirugikan dengan libur mingguan karena produksinya berkurang 1/7 daripada mestinya setiap tahun, sementara dengan libur Ramadhan dia kehilangan 1/12 bahagian tetapi masih dapat diganti dengan aktifitas lain karena harinya berturut-turut selama 29 atau 30, dan tentang ini setiap pemerintah dapat merencanakan sebaik mungkin.

Ditinjau pada asal usul, ternyata libur mingguan itu berasal dari agama Yahudi dengan menempatkan hari ketujuh, Sabtu, selaku hari libur. Sayangnya hal ini telah merebak memasuki masyarakat Islam tanpa pengertian sesungguhnya tentang hukum ALLAH mengenai libur. Mereka telah mengubah nama SAB'U menjadi Sabtu yang artinya "istirahat." Untuk menghemat waktu dan untuk tidak dikatakan mengikut Yahudi, kebanyakan orang Islam berlibur pada hari Jum'at yang Shalat Zuhurnya dilakukan berjama'ah di Masjid, namun libur pada hari Jum'at itu masih tetap bertantangan dengan hukum ALLAH dalam Alquran. Dan untuk tidak mengikuti Yahudi demikian pula, agama Kristen menetapkan libur mingguan pada hari Ahad atau Sunday yaitu hari yang menurut maksudnya adalah untuk bermandi sinar Surya.


Tentang libur mingguan ini, ALLAH menyatakan pada Firman-NYA dengan arti sebagai berikut:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَواْ مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُواْ قِرَدَةً خَاسِئِينَ
2/65. Sesungguhnya kamu mengetahui orang-orang yang melanggar hukum dari kamu tentang
istirahat, lalu KAMI katakan pada mereka: "Jadilah monyet yang menyerigai."


فَجَعَلْنَاهَا نَكَالاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ
2/66. KAMI jadikan hal itu sanksi hukum bagi yang sebelumnya dan yang sesudahnya,
serta pelajaran untuk orang-orang yag insaf.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ آمِنُواْ بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُم
مِّن قَبْلِ أَن نَّطْمِسَ وُجُوهاً فَنَرُدَّهَاعَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللّهِ مَفْعُول

4/47. Wahai orang-orang yang diberi Kitab, berimanlah pada yang KAMI turunkan paralel dengan yang ada
bersamamu sebelum KAMI hilangkan wajah-wajah lalu KAMI balikkan dia kebelakangnya. Atau KAMI kutuki mereka
sebagaimana KAMI telah mengutuki kawanan istirahat (libur mingguan), dan perintah ALLAH harus dilakukan.


وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيثَاقِهِمْ
وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُواْ الْبَابَ سُجَّداً وَقُلْنَا لَهُمْ لاَ تَعْدُواْ فِي السَّبْتِوَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

4/154. Dan KAMI angkatkan di atas mereka aurora dengan perjanjian mereka, dan KAMI katakan
pada mereka:" Masukilah pintu itu dengan bersujud," dan KAMI katakan pada mereka:
"Jangan mengulangi tentang istirahat." Dan KAMI ambil dari mereka perjanjian keras.


واَسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ
فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعاًوَيَوْمَ لاَ يَسْبِتُونَ لاَ تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

7/163. Tanyailah mereka tentang negeri yang dekat laut itu ketika mereka mengulangi tentang istirahat
(mingguan), ketika ikan-ikan mereka datang pada mereka di hari istirahat tradisional mereka, dan tidak datang
pada hari mereka tidak istirahat. Demikianlah KAMI uji mereka tersebab mereka telah fasik.


ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
16/123. Kemudian KAMI wahyukan kepadamu agar engkau mengikuti doktrin Ibrahim sesempurnanya,
tidaklah dia termasuk musyrikin.


إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
16/124. Bahwa telah dijadikan istirahat (mingguan) atas orang-orang yang berselisihan tentangnya.
Bahwa TUHAN-mu akan menghukum di antara mereka pada Hari kiamat tentang apa yang
mereka perselisihkan.


Ayat 2/65 menyatakan bahwa libur mingguan adalah suatu pelanggaran hukum, lalu ALLAH menjadikan orang-orang yang melakukannya diantara Bani Israil berupa monyet menyerigai. ALLAH telah menentukan sifat masing-masing makhluk hidup, dan monyet bersifat suka meniru perbuatan yang dilihatnya tanpa pengertian tentang maksud perbuatan itu. Monyet suka menggertak terhadap makhluk lain, tetapi gertak itu dilakukannya sewaktu berkumpul besama-sama, dan mereka lari sewaktu menghadap tantangan spontan. Monyet juga biasanya hidup di dahan pohon yang tinggi, sembari mencibirkan makhluk lain yang kebetulan lewat di bawahnya sebagai mengejek dengan sikap sombong. Hal ini dikatakan menyeringai yaitu mencibir mengejek tanpa kesadaran tentang keadaan diri sendiri.

Jadi masyarakat yang membiasakan diri dengan libur mingguan akan bersikap sama dengan pelanggaran hukum yang dilakukan setengah Bani Israil tadi pada siapa berlaku ketentuan ALLAH, bahwa mereka suka meniru sekalipun tidak memahami tujuan perbuatan. Bahwa mereka suka melakukan gertak sambal atau juga gertak monyet sewaktu bersama tetapi secara pribadi adalah pengecut dan opportunis. Bahwa mereka suka berlagak gagah, berpakaian bagus dengan berbagai alat make-up, mondar-mandir dalam negeri sembari memandang enteng terhadap orang lain, sementara keadaannya sehari-hari sangat menyedihkan, berpakaian kumal, dalam tingkatan hidup rendah.



Benar tidaknya analisa kita tentang ketentuan ALLAH mengenai hal demikian, terserah pada penelitian atas kejadian mingguan bagi mereka yang suka berweek-end, tetapi ALLAH menjadikan hal itu selaku sanksi hukum pada masa dulunya, masa kini, dan pada waktu-waktu selanjutnya. Untuk itu, perhatikanlah maksud Ayat 2/66 selaku bahan pelajaran bagi orang-orang insaf tentang hidup dan nasib diri. Keadaan demikian dinyatakan sebagai kutuk ALLAH, termuat pada Ayat 4/47, tentang mana ketentuan ALLAH pasti berlaku di semua zaman.

Ayat 4/154 dan 7/163 menyatakan bahwa libur mingguan adalah terlarang, dan kalau dulunya sudah berlaku sebagai tradisi, hendaklah tidak diulangi lagi. Tetapi karena Bani Israil demikian telah biasa dengan sikap tradisional itu, lalu ALLAH menguji mereka, tidak membiarkan ikan di laut untuk mereka tangkap selama enam hari dan membiarkan ikan itu berapungan pada hari libur mereka setiap minggu. Hal ini ditentukan ALLAH agar mereka tidak mengadakan hari libur mingguan lagi, namun keadaan demikian telah mengubah waktu libur dari hari ketujuh kepada hari pertama yaitu Ahad atau Sunday.

Sebagai tadi telah kita katakan bahwa libur mingguan itu salah menurut tujuan, juga salah menurut hukum ALLAH dalam Alquran, tetapi juga telah salah menurut dasar semulanya karena Bani Israil dalam agama Yahudi dan Kristen mempercayai bahwa Tuhan istirahat pada hari ketujuh sebagai mereka tuliskan dalam The Bible selaku Kitab Suci mereka:


Genesis

2:2 And on the seventh day God ended his work which he had made,
and he rested on the seventh day from all his work which he had made.

2:3 And God blessed the seventh day, and sanctified it because
that in it he had rested from all his work which God created and made.
Kejadian
Dan pada hari ketujuh Tuhan mengakhiri perkerjaannya yang telah dia jadikan,
dan dia istirahat pada hari ketujuh itu dari semua perkerjaannya yang telah dia lakukan.

Dan Tuhan memberkahi hari ketujuh itu, dan menyucikannya: karena padanya
dia telah istirahatdari semua pekerjaannya yang Tuhan ciptakan dan jadikan.

Inilah dasar utama bagi orang-orang di luar Islam untuk berlibur mingguan dengan kepercayaan bahwa Tuhan telah menyelesaikan semua pekerjaannya pada hari ketujuh, lalu dia istirahat pada hari itu memberkahi hari ketujuh itu dan menyatakan sebagai hari suci.

Banyak sekali yang akan kita kemukakan tentang itu, baik mengenai istilah "hari", istirahat, berkah, begitupun mengenai hari suci. yang hampir semuanya bertantangan dengan logika dan kejadian, tetapi baiklah di bawah ini kita kutipkan tantangan Alquran yang maksudnya sebagai berikut:


يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
55/29. Meminta pada-NYA siapa yang di planet-planet dan di Bumi.
Setiap hari DIA dalam kesibukan.
Jadi kalau diperhatikan lebih jauh, ternyatalah kekeliruan tentang berlibur mingguan pada setengah masyarakat Islam berpokok dari pengaruh agama asing, atau bertendens agama, tentang mana setiap orang hendaklah menyadari ketentuan hukum agamanya dan mawas diri hingga tidak termasuk golongan yang dimarahi ALLAH.

Untuk hal ini sebaiknya orang-orang Islam sekali lagi memperhatikan ketentuan ALLAH termuat pada Ayat 16/123, dan 16/124. Bahwa Nabi Ibrahim hidup sebelum Taurat diturunkan kepada Nabi Musa, juga sebelum The Bible ditulis orang, bahkan dialah yang jadi kakek dari Yakub yang berketurunan kepada 12 bangsa Bani Israil. Ibrahim itu dulunya menganut agama Islam yang melarang adanya libur mingguan. Hukum Islam yang tercantum dalam Alquran adalah doktrin Ibrahim, yang kepadanya Nabi Muhammad bahkan semua manusia diperintahkan mengikuti sesempurnanya.

Siksa Kubur

Banyak sekali masalah-masalah keagamaan yang perlu kita bahas, sedang waktu dan tempat amat terbatas bagi kita. Namun kru buletin mungilAl-Atsariyyah masih tetap setia menemani Anda dalam rubrik fatwa.
Kali ini kami akan menurunkan fatwa: "Hukum Mengingkari Siksa Kubur", "Pintu Ijtihad Belum Tertutup", dan "Hukum Taqlid".

  • Hukum Mengingkari Siksa Kubur
Siksa kubur adalah perkara yang pasti ada. Perkara ini termasuk masalah aqidah yang telah lama diyakini oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan pengikutnya.
A’isyah -radhiyallahu ‘anha- menuturkan,
أَنَّ يَهُوْدِيَّةً دَخَلَتْ عَلَيْهَا فَذَكَرَتْ عَذَابَ الْقَبْرِ. فَقَالَتْ لَهَا: أَعَاذَكِ اللهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ . فَسَأَلَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ, فَقَالَ: ( نَعَمْ, عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌ ) . قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ صَلَّى صَلاَََةً إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
"Seorang wanita Yahudi pernah masuk menemui A’isyah. Wanita itu menyebutkan siksa kubur seraya berkata kepada A’isyah, "Semoga Allah menjagamu dari siksa kubur. Kemudian A’isyah bertanya (kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ) tentang siksa kubur, maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Ya, siksa kubur benar ada". A’isyah berkata, "Aku tak pernah melihat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sholat setelah itu, kecuali beliau meminta perlindungan dari siksa kubur". [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya (1372)]
Kemudian dekade terakhir ini, muncul sekelompok manusia dari kalangan Hizbut Tahrir (HTI) yang berusaha menolak hadits ahad dalam masalah aqidah sehingga mereka banyak mengingkari aqidah (keyakinan) yang ada dalam hadits-hadits ahad tersebut, seperti masalah siksa kubur. Orang-orang Hizbut Tahrir telah mengingkari aqidah adanya siksa kubur !! Ini adalah paham sesat yang telah diusung sebelumnya oleh pendahulu mereka dari kalangan sekte sempalan, Mu’tazilah !!!
Ada yang pernah menyoal perkara ini kepada para ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah, "Apa hukumnya mengingkari siksa kubur dengan dalih bahwa hadits-hadits yang berkaitan dengan siksa kubur adalah hadits-hadits ahad. Sedang hadits ahad tidak boleh dipegangi sama sekali dalam perkara aqidah?"
Para ulama’ Ahlus Sunnah yang tergabung dalam Lembaga Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imahmemberikan jawaban kepada si Penanya setelah memuji Allah, dan bersholawat kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, "Jika telah nyata sebuah hadits ahad dari Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka hadits itu adalah hujjah dalam perkara yang ia tunjukkan dalam hal aqidah, maupun amaliah berdasarkan ijma’ (kesepakatan) Ahlus Sunnah. Barangsiapa yang mengingkari hadits ahad setelah tegaknya hujjah atas dirinya, maka ia kafir !! Rujuk masalah ini dalam kitab Ash-Showa’iq karya Ibnul Qoyyim, atau Mukhtashor-nya karya Al-Maushiliy. Wabillahit taufiq, washollallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam ". [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (5/13)]
  • Pintu Ijtihad Belum Tertutup bagi Ahlinya (Ulama’)
Sebagian orang menyangka bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Artinya, para ulama’ tidak perlu lagi berusaha menggali dan mengkaji Al-Qur’an dan Sunnah, tapi mencukupkan diri dengan ijtihad yang pernah dilakukan oleh para ulama’ terdahulu.
Ini adalah opini yang keliru. Bahkan para ulama’ boleh berijtihad sesuai dengan kaedah-kaedah Syari’at, seperti Kaedah Ushul Fiqih, Kaedah Mushtolah Hadits, Al-Jarh waAt-Ta’dil, Qowa’id Fiqhiyyah, bahasa Arab, Kaedah Nasikh-Manshukh, ijma’-ijma’ para ulama’. Adapun selain ulama’ yang tidak mengetahui kaedah-kaedah tersebut, maka tak layak baginya berijtihad, seperti kondisi kebanyakan cendekiawan kita, dan juga orang-orang JIL (Jaringan Islam Liberal) serta Ahmadiyyah. Mereka adalah orang-orang jahil, dan menyempal.
Berijtihad bukanlah berarti mengotak-atik wahyu, dan memplintirnya sesuai hawa nafsu kita, walaupun hal itu bertentangan dengan wahyu itu sendiri sebagaimana yang sering dilakukan oleh orang-orang JIL yang pandir.
Adapun para ulama’, maka mereka boleh berijtihad. Pintu ijtihad belum tertutup bagi mereka. Para ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah berfatwa dalam hal ini secara resmi, "Pintu ijtihad belum tertutup, bahkan masih terbuka bagi para ahli ilmu dan iman (para ulama’), serta memiliki ilmu tentang Kitabullah, dan Sunnah Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, serta ucapan para salaf dari kalangan sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan dari kalangan ulama’. Adapun orang yang tidak demikian halnya (yakni, bukan ulama’), maka kewajiban dirinya adalah bertanya kepada para ulama’ sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ulama’". [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah (5/18)]
Jadi, pintu ijtihad masih terbuka bagi para ulama yang ahli, dan paham kaedah-kaedah syari’at; namun tertutup bagi orang-orang jahil.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ, فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ, فَلَهُ أَجْرَانِ. وَإِذَا حَكَمَ, فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ, فَلَهُ أَجْرٌ
"Jika seorang hakim (ulama’) hendak memutuskan (suatu perkara), lalu ia berijtihad, kemudian ia benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Jika mau memutuskan perkara, lalu ia berijtihad, kemudian keliru, maka ia akan mendapatkan satu pahala". [HR. Al-Bukhoriy (7352), dan Muslim (1716)]
Dalam hadits ini Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak membatasi waktu bagi seorang hakim (ulama) dalam berijtihad. Selama mereka memiliki kemampuan berijtihad, maka pintu ijtihad terbuka bagi mereka, baik dulu, sekarang, maupun seterusnya.
Faedah : Di dalam hadits ini disebutkan kata "hakim". Maka yang dimaksud dengan "hakim" disini adalah ulama’, karena dahulu yang diangkat jadi hakim adalah para ulama’. Berbeda dengan hakim-hakim pada hari ini, maka mereka umumnya jahil tentang agama Allah!!
Al-Imam An-Nawawiy-rahimahullah- berkata, "Para ulama berkata, "Kaum muslimin bersepakat bahwa hadits ini berkenaan dengan hakim yang ulama, punya keahlian dalam memberikan keputusan. Jika ia benar, maka meraih dua pahala: sebuah pahala atas ijtihadnya, dan sebuah pahala atas kebenarannya. Jika ia keliru, maka ia hanya meraih satu pahala atas ijtihadnya. Para ulama’ itu berkata, "Adapun hakim yang tidak memiliki keahlian dalam memutuskan perkara (yakni, ia bukan ulama’), maka tak halal baginya memberikan keputusan. Jika ia memutuskan perkara, maka ia tak akan mendapatkan pahala, bahkan ia berdosa". [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim Ibn Al-Hajjaj (12/13)]
Al-Imam Ibnul Mundzir-rahimahullah- berkata, "Hanyalah seorang hakim diberi ganjaran, saat ia keliru, apabila ia adalah seorang ulama’ dalam berijtihad, lalu ia berijtihad. Adapun jika ia bukan ulama’, maka tidak demikian halnya". [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (13/319)]
Jika seorang hakim memutuskan perkara, tanpa ilmu, atau ia seorang yang jahil, maka ia tak akan mendapatkan pahala, bahkan mendapatkan dosa !!
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda,
الْقُضَاةُ ثَلاَثَةٌ: وَاحِدٌ فَيْ الْجَنَّةِ, وَاثْنَانِ فِيْ النَّارِ, فَأَمَّا الَّذِيْ فِيْ الْجَنَّةِ فَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ, فَقَضَى بِهِ. وَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ, فَجَارَ فِيْ الْحُكْمِ, فَهُوَ فِيْ النَّارِ. وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ, فَهُوَ فِيْ النَّارِ
"Hakim ada tiga macam: Salah satunya di Jannah (surga), dan dua di neraka. Adapun yang di surga, maka ia adalah seorang yang mengetahui kebenaran, lalu ia memutuskan perkara dengannya. Seorang hakim yang mengetahui kebenaran, lalu ia curang dalam memutuskan perkara, maka ia di neraka. Seorang hakim memutuskan perkara manusia atas dasar kejahilan, maka ia juga dalam neraka". [HR. Abu Dawud (3573), At-Tirmidziy (1322), dan Ibnu Majah (2315). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3735)]
  • Taqlid kepada Al-Imam Asy-Syafi’iy, Boleh ?
Sebagian kaum muslimin pada hari ini bertaqlid buta kepada sebagian ulama. Mereka tak mau tahu apakah ucapan imam yang mereka ikuti sesuai dengan kebenaran ataukah tidak ?! Yang jelas ini adalah pendapat ulama’ fulan.
Realita seperti ini merambat ke negeri kita, Indonesia dengan adanya orang yang ta’ashshub (fanatik) kepada Al-Imam Asy-Syafi’iy -rahimahullah- sehingga segala ucapan Asy-Syafi’iy mereka terima mentah-mentah, tanpa memperhatikan apakah ucapan beliau sesuai al-haq atau tidak ? Sebaliknya, semua ucapan ulama selain ucapan Asy-Syafi’iy, mereka tolak, walapun ucapan itu didasari oleh Al-Qur’an dan Sunnah.
Fakta dan fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, di negeri lain juga terjadi, seperti di Maroko, Al-Jaza’ir, Mauritania, dan lain. Mereka taqlid kepada Al-Imam Malik -rahimahullah-.
Benarkah seorang boleh taqlid buta kepada Al-Imam Asy-Syafi’iy atau Al-Imam Malik bin Anas -rahimahullah- atau tidak ?!
Seorang Penanya pernah melayangkan pertanyaan ke Al-Lajnah Ad-Da’imah, "Apa hukumnya orang yang taqlid kepada Al-Imam Malik dalam segala ijtihadnya, serta meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah?"
Maka para ulama’ kita yang duduk dalam Al-LajnahAd-Da’imah menjawab, "Malik -rahimahullah- adalah seorang imam diantara para imam dalam ilmu. Beliau adalah manusia biasa; bisa berbuat keliru, dan benar. Ucapannya boleh dipegangi, dan boleh pula ditolak. Apa saja (diantara ucapannya) yang mencocoki kebenaran, maka harus diterima. Yang tidak cocok dengan kebenaran, maka ditinggalkan. Seorang manusia jika mampu mengambil hukum dari Al-Qur’an, dan Sunnah, maka ia tak boleh taqlid kepada siapapun. Jika ia tak mampu, dan ada perkara agama yang bermasalah bagi dirinya, maka hendaknya ia bertanya kepada ulama’ yang paling terpercaya baginya, dan mengamalkan jawabannya.. Imam Malik, dan lainnya dalam hal itu sama". [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah (5/27)]
Taqlid bukanlah merupakan suatu hal yang wajib kepada seorang pun selain kepada Rasulullah -Shallallahu alaih wasallam-, karenanya Al-Imam Malik-rahimahullah- sendiri pernah berkata,
كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ, إِلاَّ صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Setiap orang boleh diambil ucapan dan pendapatnya, dan juga boleh ditinggalkan kecuali penghuni kubur ini (yakni Nabi) -Shollallahu ‘alaihi wasallam-" . [Lihat Ar-Rodd Al-Wafir (hal. 95) karya Ibnu Nashiriddin Ad-Dimasyqiy]
Jadi, setiap orang bisa diambil ucapannya, ketika sesuai dengan Sunnah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, bahkan itu wajib setelah nyata kebenarannya. Namun apabila tidak sesuai dengan Sunnah, maka harus dilemparkan jauh-jauh ucapan orang tersebut.
Al-Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata,
كُلُّ مَا قُلْتُ, فَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلاَفُ قَوْلِيْ مِمَّا يَصِحُّ, فَحَدِيْثُ النَّبِيِّ أَوْلىَ فَلاَ تُقَلِّدُوْنِيْ
"Setiap yang saya ucapkan, lalu di sana ada hadits yang shohih dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menyelisihi ucapanku, maka hadits Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- lebih utama (engkau pegangi), dan janganlah engkau taqlid kepadaku". [HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (15/9/2) via Shifah Ash-Sholah (hal. 52)]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata, "Apabila ada suatu permasalahan yang menimpa seorang muslim, maka ia meminta fatwa seorang ulama yang diyakini bahwa dia (ulama itu) akan memberinya fatwa berdasarkan syari’at Allah dan Rasul-Nya dari madzhabmanapun. Tidaklah wajib atas seorang di antara kaum muslimin untuk taqlid kepada pribadi tertentu di antara ulama dalam segala yang ia katakan. Tidak wajib atas seorang di antara kaum muslimin untuk melazimi madzhab pribadi tertentu, selain Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam segala yang beliau wajibkan dan kabarkan. Bahkan setiap orang di antara manusia boleh diambil (dipegangi) di antara ucapannya atau ditinggalkan kecuali Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam-". [Lihat Majmu' Al-Fatawa (20/209)]
 
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 77 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.