Kamis, 02 Juni 2011

~ Cinta 2 yg MELALAIKAN ~


Pertama. CINTA DUNIA LUPA AKHIRAT

Mari kita sedikit... mengingat dan merenung. Seberapa besar cinta kita pada dunia yang fana ini. Tanyakan hal itu pada hati nurani anda. Kebanyakan kita akan menemukan jwaban, bahwa kita lebih mencintai dunia dari pada akhirat. Bukanlah hal yang rahasia lagi, bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara. Dunia hanyalah temapt persinggahan. Dunia adalah ladang untuk menanam 'pohon amal' untuk dipanen di akhirat. Dunia ini hanyalah panggung sendiwara yang akal berakhir jika Sang Sutradara ingin mengakhirinya.

وما حياة الدنيا الا لهو و لعب ,

"tidaklah dunia ini malainkan sendiwara dan permainan".



Kenapa saya katakan kita lebih mencintai dunia dari pada akhirat?.

Merenunglah….

Berapa banyak uang yang kita habiskan untuk membeli makan dan minuman guna mengisi perut kita yang sejengkal ini?. Berapa banyak waktu yang kita korbankan untuk merawat dan menghias tubuh kita ini. Berapa banyak pakaian yang kita siapkan untuk mempercantik tubuh kita ini?.

Bandingkan…..

Berapa banyak uang yang kita sedekahkan untuk fakir miskin, untuk anak yatim, untuk saudara-saudara kita yang tertindas di Palestina, di Iraq, di Sudan, di Somalia, di seluruh penjuru dunia. Pernah kah kita berdoa untuk mereka?. Agar Allah Swt. meringankan beban yang mereka tanggung. Mereka mengerang kesakitan, sementara kita tertawa girang menikmati suguhan dunia yang menipu. Kita hapal, "Muslim yang satu dengan yanglainnya adalah bersaudara". Tapi hapalan hanya ada dimulut, tapi tak kita amalkan. Kita terlalu egois. Kita terlalu mementingkan kehidupan kita sendiri.



Manusia bukanlah sekedar jasad belaka. Manusia dijadikan sempurna, yang dilengkapi dengan perangkat lain; Ruh dan Akal. Kita telah disibukkan oleh jasad kita. Padalah jasad ini tidak akan dibawa ke akhirat. Kita lupa merawat akal kita. Padahal akallah yang membedakan manusia dan hewan. Kita lupa, bahwa ruh kita yang akan mempertanggung jawabkan seluruh perbuatan jasad ini di akhirat kelak. Wajah yang cantik akan menjadi tanah. Tubuh yang indah akan dimakan cacing. Harta yang banyak tak akan dibawa mati. Anak istri hanya bisa mengantar kita ke depan liang kubur. Tak ada yang kan ikut bersama kita di dalam kubur kecuali amal. Tapi kita selalu lalai. Kita terlalu mencintai dunia, dan lupa pada kehidupan akhirat. Firman Allah Swt

وللآخرةخير لك من الأولى

"Dan sesungguhnya kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu dari pada permulaan" (surat Adh-Dhuha; ayat 4)

Imam al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya "Tafsirul Qur'anul 'Azhim" menyebutkan penjelasan ayat ini. "kehidupan akhirat lebih baik dari pada kehidupan sekarang ini, dunia ini". Sekaligus Ibnu Katsir menyebutkan bahwa tauladan kita, Qudwah kita, nabi Muhammad Saw. adalah manusia yang paling zuhud di dunia.

Semoga yang bershalwat pada nabi ketika saya sebut namanya mendapat syafaat di akhirat nanti……… Amiiiiiiiiin!!!

Kemudian dalam lanjutan ayat ini Allah Swt. berfirman:

ولسوف يعطيك ربك فترضى

"Dan kelak tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati)mu akan puas". (surat Adh-Dhuha; ayat 5)



Jika akhirat lebih baik dari pada dunia, kenapa kita harus berlomba mengejarnya. "Jika ada yang lebih baik, buat apa yanglain"

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, dunia ini tak lebih daripada bangkai. Bangkai yang selalu menebarkan bau busuk. Bangkai yang selalu mengganggu pernapasan orang lain. Hanya anjing yang akan berebut untuk memakan bangkai. Jika kita berebut dalam urusan dunia, maka seola-olah kita sedang berebut bangkai. Jika kita ikut berebut bangkai, maka kita adalah ………… (titik-titik).

Anda cari sendiri sambungannya

Yang kedua. CINTA KEHIDUPAN DUNIA LUPA KEMATIAN

Sudah saya sebutkan tadi, hidup di dunia hanya sementara. Usia tidak akan panjang. dari detik menjadi menit. Dari menit menjadi jam. Dari jam terus merangkak menjadi hari. hari pun berganti manjadi minggu. Terus berputar, minggu mnjadi bulan, dan bulan menjadi tahun. Jangan sangka kehidupan yang sedetik itu tidak berharga. Dari detik demi detik lah usia kita semakin berkurang. Jika Allah mentakdirkan usia kita 60 tahun, hitunglah berapa lagi usia yang masih tersisa. Jika saat ini usia anda 19 tahun menjelang 20, dan ternyata Allah memberikan usia bagi anda 19 tahun 11 bulan 29 hari 23 jam 59 menit, 59 detik , hanya tinggal satu detik lagi usia anda akan berakhir. Selanjutnya terserah Allah…..

Berapa banyak orang yang sakit bertahun-tahun tapi masih hidup hingga kini

Berapa banyak orang yang sehat tetapi meninggal di waktu pagi

Tak ada yang bisa menjamin usia kita sampai hingga besok. Bisa jadi nanti malam anda akan mati. Bisa jadi anda tidak akan bisa melihat mata hari terbit besok pagi. Bisa jadi hari ini adalah hari terakhir bagi saya untuk berjumpa dengan anda. Bisa jadi hari ini adalah hari yang paling akhir bagi anda untuk bertemu saya. Saya bukan mankut-nakuti, tapi bisa saja hal itu terjadi, tentunya atas kehendak Allah Swt.

Anak-anak bisa mati

Remaja bisa mati

Dewasa bisa mati

Orang tua apa lagi

Ajal tidak akan pernah membedakan yang tua dan muda. Yang cantik dan yang jelek

Jangan pernah berkata; "nanti jika sudah tua aku akan mulai beribadah". Karena tak ada jaminan usia kita akan sampai tua. Allah berfirman dalah surat al-A'raaf ayat 34:

ولكل أمة أجل فاذا جآء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون

"dan setiap umat ada ajalnya, maka apabila telah datang ajal mereka, tidak dapat dimundurkan walau sesaat, dan tidak dapat pula dimajukan".

Ibnu Abbas menjelaskan ayat ini di dalam tafsir Imam Fakhrurrazy, bahwa maksud ajal disini adalah waktu yang ditentukan oleh Allah untuk memberikan azab bagi kaum yang mendustakan Rasulullah Saw. Kemuadian, sebagian Ulama tafsir ada yang berpendapat bahwa ajal disini adalah umur.

Kemudian, kita dapat melihat kalimat ساعة " " yang berarti saat, atau waktu. Karena sesaat adalah hitungan waktu yang paling kecil, karena itu lah Allah menyebutkan satuan waktu yang paling kecil. Jika dipamahi, maka seolah-olah Allah mengatakan, "Sedikit, atau sedetik atau semili detik pun tidak dapat dimundurkan dan dimajukan".

Jika mati adalah satu ketentuan yang harus kita hadapi, kenap kita tidak memepersipkannya. Jika mati adalah akhir dari kehidupan dunia, kenapa kita tidak bersiap-siap untuk mengakhiri hidup di dunia ini dengan amal.

Abdul Aziz Rantisy, pemimpin perlawanan rakyat Palestina (HAMAS) yang menjadi pengganti Seikh Yasin setelah wafat diterjang rudal Israel hingga berkeping pernah berpidato dalam satu kesempatan. Dalam pidatonya ia mengatakan; "Semua kita akan mati. Baik mati karena penyakit kangker, atau mati karena ditembak rudal dari helikopter apachee. Akan tetapi saya lebih memilih mati ditembak rudal dari apachee", katanya dalam pidatonya. Benar saja, berapa hari setelah pidatonya itu sebuah rudal dari apachee Yahudi menghantam tubuhnya hingga hancur berkeping-keping. Beliau wafat (syahid) menyusul pimpinan sebelumnya sebagai manusia mulia yang dijanjikan sorga bagi mereka.

Saudaraku…!

Jika Rantisy telah bercita-cita dengan memilih cara wafatnya dan ia mendapatkannya, lalu bagaimana kita?. Apakah kita telah bercita-cita mati syahid seperti mereka?. Apakah kita menyangka ajal tidak akan datang menjemput kita?. Atau kita berencana akan berubah besok, lusa, nanti, atau setelah kita tua, padahal kita tidak tahu kapan ajal akan datang. Pilihlah cara mati yang paling baik menurut anda, dan yang anda sukai. Setidaknya kita tidak mati sia-sia seperti mati kodok.

Saudaraku…!

Kebanyakan manusia telah mati dalam keadaan yang sering ia lakukan. Rantisy sebagai pejuang wafat dalam perjuangan. Pemabuk telah mati di pakter tuak. Tentara telah mati di medan juang. Nelayan telah mati di laut. Petani telah mati di sawah. Pebisnis telah mati di kantor. Ahli ibadah telah mati di atas sejadah. Semuanya mati sesuai dengan apa yang sering mereka kerjakan. Semakin sering kita berbuat baik, maka akan banyak kesempatan kita untuk mati dalam keadaan baik, dan sebaliknya.Lihat Selengkapnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar